Koe no Katachi – A Silent Review.

It’s been a while, hasn’t it?
Kapan terakhir kali aku nulis artikel di blog ini? November?

Ukyaaaa–aa!! Rasanya kangen banget ke rutinitas nulis blog~ Karena semua tugas skripsiku sudah kelar, sekarang aku bisa balig nulis-nulis lagi! Dan kebetulan kemarin lusa aku baru aja nonton salah satu anime yang berhasil bikin aku nangis bebas, jadi ini topik paling pas buat artikel baru!

Aku nonton film ini kebetulan di hari terakhir penayangannya di Singapura. Sayangnya, aku nggak nonton filmnya di bisokop favoritku, tapi di bioskop kecil deket apartemen. Dan oh, aku nonton ini bareng temenku dari Indo, kalian bisa lihat seberapa autis kelakuan kita lewat video ini.

subscribe plz //slap

Koe no Katachi (A Silent Voice) merupakan film adaptasi manga dengan nama yang sama karangan Yoshitoki Ōima tahun 2013 yang lalu. Aku nggak tahu tankobon nya udah terbit di Indonesia apa belum, tapi aku sendiri punya 2 volume awalnya yang dikadoin oleh temen deket.

Walaupun aku tahu kalau ini merupakan adaptasi komik, aku sendiri nggak punya info apapun mengenai film ini. Aku nggak tahu siapa aja karakter di dalamnya, apa ceritanya, apa tema utamanya, jadi ini beneran pertama kalinya aku berhubungan dengan Koe no Katachi.

Jadi, gimana film nya?


Koe no Katachi menceritakan tentang Shoya Ishida, seorang anak SMA yang berniat untuk bunuh diri karena suatu alasan. Film ini akhirnya mengajak para penonton untuk flashback ke masa kecil Shoya dimana ia merupakan seorang bully yang cukup parah.

Files - Koe no Katachi - 01.jpg

Ia kerap kali mem bully seorang gadis kecil bernama Nishimiya Shoko, ia adalah gadis tunarungu yang masuk ke sekolah Shoya. Awalnya, mereka baik-baik aja, tapi lama kelamaan lingkaran pertemanan Shoya mulai resah dengan Shoko dan akhirnya dimulailah aktivitas bullying itu, hingga suatu hari mereka kelewatan dan Shoko mengalami cidera di telinganya.

Files - Koe no Katachi - 05.jpg

Anak-anak lainnya tidak mau disangkut-pautkan dengan insiden ini, dan akhirnya Shoya disalahkan sepihak oleh semua teman-temannya. Sejak saat itu, Shoya akhirnya diasingkan dan mulai ditinggalkan, dan dengan begitu, Shoya resmi menjadi bahan bully anak-anak lainnya.

Waktu berlalu, Shoya sekarang menjadi penyendiri. Ia mulai memikirkan hal-hal yang telah dilakukannya pada masa kecilnya. Shoya sendiri akhirnya berhasil bertemu dengan Shouko yang sudah tumbuh menjadi wanita cantik. Selama jangka waktu SD menuju SMA ini, Shoya mempelajari bahasa isyarat yang memang ia tujukan untuk berkomunikasi pada Shoko.

Files - Koe no Katachi - 02.jpg

Shoko sendiri tumbuh sendiri, ia juga masih kerap kali mendapatkan beberapa perlakuan kurang mengenakkan dari “teman-teman” nya. Shoya ingin melakukan sesuatu untuk Shoko, dan pada akhirnya Shoko meminta Shoya untuk mencari salah satu temannya waktu SD, Miyoko Sahara.

Setelah itu, semuanya semakin berkembang. Shoya bertemu dengan teman-teman lamanya, satu demi satu. Ia sendiri mulai menemukan suatu kebahagiaan dalam membantu Shoko. Untuknya, apapun yang terjadi tak masalah, asalkan Shoko bahagia.

Bagaimana kelanjutan hidup Shoko dan Shoya? Apalah mereka akan menjadi teman baik? Atau bahkan lebih? Bagaimana dengan sifat Shoya yang tertutup? Apakah ia akan berhasil menjadi seorang pribadi yang baik? Segera tonton Koe no Katachi apabila diputar di bioskop sekitarmu!


Jadi itu tadi pada dasarnya plot utama di film ini, sekarang aku bakal review satu-satu hal-hal yang menurutku merupakan nilai plus dari film ini.

Pertama kita bakal bahas story.

Oh yaTuhan, cerita film ini ngena banget di aku. Anyway, pada dasarnya Koe no Katachi merupakan film yang mengajarkan kamu tanggung jawab, dan bagaimana kamu harus membayar untuk apa yang telah kamu lakukan di masa lalu, ga peduli betapa susahnya kamu harus berjuang untuk membayar semuanya.

Selain itu, tema persahabatan di sini kuat banget. Bagaimana kamu harus bisa menerima kesalahanmu, dan mulai memberikan kesempatan bagi orang-orang di sekitarmu untuk masuk ke dalam kehidupanmu, dan kamu sendiri harus mulai mengerti orang lain.

Di bagian awal waktu Shoya dkk masih dalam usia SD, aku bisa melihat kalau anak-anak SD real juga akan berperilaku seperti ini. Walaupun mereka semua anak-anak busuk, tapi busuknya masih dalam taraf masuk akal, IMO. Pengkarakteran di film ini beneran rapi, dan pace yang diambil juga sangat rapi. Aku suka dimana sebuah cerita memanfaatkan waktu tayangnya yang lama untuk membangun sebuah slow burn yang nantinya akan meledak dan merusak segalanya. It is beautiful.

Files - Koe no Katachi - 03.jpg

Aku sendiri bisa menggambarkan diriku di dalam Shoya. You see, beberapa waktu yang lalu aku juga ada masalah dengan lingkaran teman-temanku, dan pada dasarnya aku juga memasang tanda X di wajah mereka yang melambangkan aku ga peduli lagi sama mereka (dan sampai sekarang pun tanda X itu masih ada di mereka walaupun nggak setebal kemarin), dan yang aku pedulikan pada waktu itu cuma pacarku dan sahabatnya. Hal ini sangat mirip dengan apa yang dihadapi oleh Shoya di dalam film, jadi film ini sangat relatable ke aku.

Aku nggak tau tentang kalian dan teman-teman kalian, tapi pasti ada masa dimana kamu merasa kamu sendirian dan nggak ada orang yang peduli ke kamu. Nah, film ini mengeksplorasi perasaan itu dan memberitahu bahwa nggak baik menyimpan semuanya di dalam hatimu.

Lalu untuk masalah art nya,

Kyoto Animation bekerja sangat baik untuk film ini, beberapa adegan terlihat cantik sekali, apalagi di scene-scene yang menggambarkan air dan pemandangan. Walaupun begitu, aku merasa kelasnya belum mencapai kelas Kimi no Na Wa. Art style nya lebih kasar dan lebih terlihat hand-drawn dimana Kimi no Na Wa terasa seperti lukisan yang cantik.

Bukan berarti jelek, cuma beda art-style aja.

Files - Koe no Katachi - 07.jpg

Begitu juga di bagian soundtrack-nya. Aku merasa BGM nya belum mencapai kelas Kimi no na Wa, tapi walaupun begitu, musik yang ada di dalam film ini bagus. Musik openingnya berasa masa muda banget, tapi entahlah, untuk aku, musiknya terasa lebih soft dibandingkan Kimi no na Wa, dan aku nggak bilang soft dalam artian lagunya jelek, cuma kurang impact.

Pada akhirnya, Koe no Katachi merupakan film yang sangat membekas di hatiku. Seluruh crew film ini telah memberikan performa terbaiknya, semua seiyuu-nya berasa hidup dan emosional, artworknya juga nggak ada aroma “Harga BD kualitas 240p” , dan musiknya sendiri bagus walaupun kurang ada impact buat aku.

So yeah, tonton film ini sesegera mungkin kalau nantinya tayang, dan ajak semua orang yang kamu sayangi buat nonton ini. Terutama lingkaran pertemananmu, pacarmu, adik pacarmu, adikmu, dan mama mu.

Ya.

Mama mu.

AV here, signing off.

P.S. Kalo ditanya aku milih siapa di film ini… Rasanya aku ambil Nao. Dia manis kok, cuma tsun parah aja. Beside, Shoko kan udah ada Ya-sho.

Files - Koe no Katachi - 04.jpgP.S.S. Seriously, subscribe to my YouTube channel, please? Aku bakal upload banyak hal-hal wibu disana, terutama game dan kelakuan autisku!

SNS Accounts:

Twitter: @AndrianVidano
Facebok: Andrian Vidano+
Instagram: @andrianvidano 
YouTube: AndrianVidano
ask.fm: andrianpramav
Group: AV+Community

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s