Blue Moon

Pagi itu merupakan pagi yang dingin. Walaupun masih pertengahan November, tampaknya musim dingin tidak sabar ingin segera menyambut semua orang dengan tiupan angin dinginnya. Aku berjalan menuju kantor kecilku yang terletak di tengah kota.

files-blue-moon-00

Aku adalah seorang producer di sebuah agensi bernama 316 Production. Sebuah agensi kecil yang bertugas menerbitkan idol-idol baru, mulai dari saat mereka masih amatir hingga akhirnya menjadi seorang “Top Idol”. Anak yang ditugaskan kepadaku bernama Chihaya Kisaragi, 18 tahun.

Aku bergegas masuk kedalam kantor, udara luar semakin menusuk, untungnya kantor memiliki satu unit heater yang biasa dipakai apabila udara mulai menjadi dingin seperti saat ini. Kantor 316 Pro berada di lantai 2 gedung kecil ini.

“Selamat pagi, producer!” ucap Chihaya yang tampaknya baru saja tiba di kantor. Ia masih mengenakan jaketnya.

“Pagi Chihaya, dingin banget ya pagi ini.” balasku
“Tapi nggak sedingin perlakuan producer ke aku akhir-akhir ini”
“…..”

“Hahaha, bercanda kok.”

Walaupun kelihatannya periang dan suka bicara, sebenarnya Chihaya anak yang pendiam. Dulu dia tidak akan bicara apabila tidak ada hal yang menurutnya penting, selain itu, dulu dia terlalu fokus menjadi seorang penyanyi dan melupakan bahwa dia lebih dari sekedar penyanyi. Chihaya adalah seorang idol, dan seorang idol yang sangat berbakat.

Bahkan saat pertama kali bertemu, ia mengatakan agar kita lebih fokus menjadi pro daripada saling kenal. Maksudku, yang benar saja… Bagaimana aku bisa produce kamu apabila aku saja tidak kenal baik. Untungnya sejalan dengan waktu, Chihaya semakin kompak denganku, dan akhirnya ia sukses menjadi idol yang terkenal.

Selain Chihaya, di dalam kantor juga terlihat Kotori Otonashi, ia merupakan sekretaris 316 Pro yang tugasnya membantu para producer di kantor. Orangnya periang dan memiliki kepribadian yang bisa membuat siapapun bersemangat. Di sampingnya terlihat Ritsuko Akizuki, seorang idol yang juga merangkap sebagai seorang producer.

“Pagi, producer!” sapa Kotori yang menaruh secangkir the di meja Ritsuko
“Pagi, Kotori”

Aku masih berdiri di depan pintu kantor untuk sesaat sambil menghangatkan badan. Kantor ini cukup nyaman juga. Di depan ada sofa dan tempat duduk yang cukup luas, ada beberapa meja kerja untuk producer lainnya, dan ada juga satu ruangan untuk para idol beristirahat.

Di samping pintu masuk terdapat sebuah dapur kecil yang biasa digunakan untuk memasak kue dan makanan lainnya saat para idol 316 Pro memiliki waktu luang.

Aku duduk di kursi kerjaku. Di atas meja terdapat beberapa proposal kerja untuk Chihaya. Aku coba menerima pekerjaan yang tidak bertabrakan dengan jadwal kerja Chihaya yang lainnya. Sesaat aku melihat Chihaya yang duduk di sofa dekat dapur.

Di depanku terdapat Ritsuko yang telihat pusing dengan pekerjaannya yang menumpuk. Tampaknya unit Ryuuguu Komachi yang di-handle olehnya makin mendapat sorotan media, dan dengan itu tawaran pekerjaan padanya semakin menumpuk.

“Repot ya?” sapaku pada Ritsuko
“Ya menurut producer gimana?” jawabnya ketus

Aku tertawa kecil, kemudian lanjut mengatur jadwal pekerjaan Chihaya. Tawaran iklan, pengisi acara, dan beberapa tawaran lain menumpuk. Sebenarnya, Chihaya sih senang-senang saja menerima jenis pekerjaan apapun, cuma…

“Ritsuko… Kamu kok bisa sih ngatur jadwal sepadat itu untuk Ryuuguu Komachi?”
“Fuh-fuh, producer, ini namanya pengalaman kerja!” jawab Ritsuko sambil membusungkan dada

“Ergh, serius, walaupun kelihatannya padat, sebenarnya pekerjaan Chihaya lebih longgar, sedangkan Ryuuguu Komachi jauh lebih padat dan repot”

“Producer, atur jadwal itu bukan sekedar slot kosong. Waktu dan transport juga dihitung. Jadi ya, misalnya posisi A ke C lebih dekat, pekerjaan B bisa ditaruh di terakhir”

Beneran deh, Ritsuko. Kamu benar-benar producer hebat!

“Lalu memangnya kenapa toh, producer?” tanya Ritsuko sambil berjalan kesampingku.

“Ini, ada satu show yang aku tertarik untuk ikutin Chihaya, semacam talkshow untuk idol gitu, tapi jadwalnya…”

Ritsuko kemudian mengambil agendaku, dan mencocokannya dengan yang ada di papan tulis yang biasa digunakan para producer untuk menunjukkan jadwal untuk para idolnya.

“Producer, ini kalau taping iklan ‘No Mercy’ dimundurin ke akhir minggu, Chihaya harusnya bisa ke acara itu.”

Aku berjalan menuju papan tulis, melihat jadwal yang aku tulis di agenda.

“Ah bener juga… Ah! Tapi nanti off-day nya Chihaya…”

Tak lama Chihaya langsung merespon,

“Selama kerjaanya bagus, aku rela kok nggak off” ucapnya

Aku menggaruk kepala,
“Kamu yakin? Bukannya kamu minggu ini mau ke food festival di Harajuku?”

“Iya, nggak apa-apa kok.”
“Ya udah”

Dan dengan itu sepakat sudah. Aku segera menghubungi stasiun TV yang mengadakan acara iDOL T@LK itu, kemudian mendaftarkan Chihaya.

Tak lama kemudian, salah satu producer lain datang ke kantor bersamaan dengan idolnya. Namanya adalah Jason, saat ini ia menangani Yukiho Hagiwara dan sepasang adik-kakak kembar, Ami dan Mami Futami.

“AN-NIICHAN, PAGI!!” jerit Ami dan Mami sambil berlarian kearahku
“P-Pagi Ami, Mami”

Merka berdua lalu menarik masing-masing lengaknku.

“Niichan, niichan, dengerin ya, Jason-niichan ga mau beliin kita God Eater yang baru~” ucap Mami sambil menyubit lenganku

“Iya niichan, padahal Ami sama Mami pingin main~” lanjut Ami

“Padahal minggu lalu kan Ami dan Mami udah kerja keras~ Masa game aja nggak dibeliin~”

“An-niichan, beliin dong~”
“An-niichan~”

Aku menunjukkan raut muka keberatan, apalagi bulan ini gajiku belum cair. Lagipula, AmiMami kan tanggung jawabnya Jason, bukan aku.

“Producer, ini anak-anakmu lho, masa mintanya ke aku?” sahutku ke Jason

“A-aku juga belum ada uang… ” balas Jason
“LHO BUKANNYA KEMARIN GAJIMU CAIR?”
“… DLC Catalog 5 bentar lagi muncul…”
“Oh shit.”

Jason kemudian berjalan menuju meja kerjanya, sedangkan Yukiho yang dari tadi berdiri di sampingnya berjalan menuju dapur untuk menyeduh teh.

“Niichan~~” Ucap Ami dan Mami sambil menempelkan pipi mereka ke lenganku.

“Ha~ah, aku ada God Eater yang baru sih, tapi cuma satu. Satu lagi kalian beli sendiri sana”
“Yes!! An-niichan memang baik kok~”

Mereka berdua kemudian berlarian menuju Chihaya dan akhirnya berbicara bersama.

Aku juga segera menyelesaikan berkas untuk mendaftarkan Chihaya ke acara iDOL T@LK, setelah semuanya selesai, aku bergegas mengajak Chihaya untuk wawancara majalah selanjutnya.

“Ayo Chihaya, kita mulai kerjaan hari ini!”
“Ayo, producer!”

“Sampai jumpa, Niichan!”

————————————————————————–

Hari ini pun berakhir, waktu menunjukkan pukul 6 sore. Aku dan Chihaya sudah selesai dengan pekerjaan untuk hari ini. Besok Chihaya akan mengisi harinya dengan latihan nyanyi untuk menyambut Idol Talk, karena itu hari ini setidaknya ia bisa bersantai, terima kasih Ritsuko!

“Mau langsung pulang?” tanyaku pada Chihaya

“Hmm, besok latihannya agak siangan… Ah producer! Hari ini kan food festivalnya dimulai! Kenapa kita nggak mampir situ dulu?” jawab Chihaya yang tiba-tiba menjadi sangat bersemangat.

“Hahaha, boleh.”

Akhirnya aku menemani Chihaya ke Harajuku. Lucu juga sih melihat Chihaya yang semangat seperti ini, apalagi ke sebuah acara makanan. Kalau dipikir, dulu saat aku membelikan dia sebuah crepes, Chihaya mengkritik kue manis itu dengan kata-kata seperti, “terlalu manis”, “terlalu banyak gula”, dan sebagainya.

Untunglah, Chihaya sudah tidak terlalu kaku seperti dulu. Misal aku bukan producernya, mungkin aku sudah jatuh cinta kepadanya. Aaah, mikir apa aku, nggak boleh, nggak boleh!

Akhirnya kita berdua memanggil taksi dari studio rekaman Chihaya, setelah perjalanan selama beberapa menit, kita tiba di depan Takeshita-dori, sebuah area penuh dengan butik, café, dan restoran. Tampaknya selama satu minggu ini mereka akan mengadakan sebuah festival street food, dan ini menarik perhatian Chihaya.

“Wah, walaupun Senin cukup rame juga ya.” ucapku setelah melihat kumpulan manusia yang memenuhi Takeshita-dori

“Ya untungnya kita datang hari ini, producer. Bayangkan aku datang sendirian akhir minggu nanti.”

Chihaya segera berjalan ke dalam, ia mengambil sebuah pamphlet yang berisi daftar stand yang buka.

Dari belakang, kita mendengar suara yang tidak asing.

“Araa? Itu bukannya AnP dan Chihaya?”
“Waai, iya, itu Chihaya-neesan!”

Tampaknya anak-anak 346 Pro juga datang ke festival, tepatnya dari unit Decoration.

“Ooh, tampaknya anak-anak Decoration toh”
“Wah producer dan Chihaya lagi ngedate?” tanya Kirari

“E-enggak! Ini karena Chihaya ada waktu kosong dan kerjaanku sudah kelar, kita mampir sini dulu”

“Fufufu~ Tahu kok, tahu kok~”

Chihaya yang dari tadi fokus membaca pamphlet di depan akhirnya kembali ke gerbang Takeshita-dori

“Producer aku nemu–! Ah, Decoration…”
“Chihaya-neesan!” Miria dan Rika berlarian untuk menarik tangan Chihaya

“Halo Rika, Miria” balas Chihaya yang segera menggenggam tangan mereka berdua.

Miria dan Rika terlihat senang berada di samping Chihaya, Kirari juga tersenyum melihat kelakuan mereka. Tak lama, akhirnya mereka bertiga berpisah dariku dan Chihaya untuk menikmati waktu mereka sendiri.

Sedangkan aku dan Chihaya…

“Kamu tadi mau bilang apa?” tanyaku pada Chihaya.

“Ini producer! Tampaknya di depan sana ada toko es krim yang terkenal dengan softcream-nya!” jawab Chihaya dengan sangat bersemangat. Jarang sekali aku melihat Chihaya yang seperti ini.

“Hahahah, pasti mau beli Vanilla ice ya?” balasku
“D-diem! Vanilla itu yang paling enak kok!”
“Memang! Aku juga suka Vanilla kok.”

Akhirnya kita berdua berjalan menuju toko es krim tersebut. Tampaknya mereka juga menjual bermacam-macam crepes.

Chihaya sesuai dugaan, langsung memesan sebuah softcream Vanilla. Aku sendiri akhirnya memesan crepes dengan topping softcream Vanilla dan beberapa topping lain.

Kita berdua makan sambil terus berjalan mengelilingi Harajuku. Terlihat banyak stand yang buka dan menawarkan jajanan mereka. Aku sendiri mampir untuk membeli Onigiri.

“Jalan-jalan gini cukup bikin lelah hilang ya, Chihaya.” ucapku pada Chihaya
“Ya, producer. Tapi kita nggak boleh lupa pekerjaan kita juga.” balasnya.

Aku melihat Chihaya memakan kedua softcream Vanilla-nya, bergantian sebelah kiri dan ka–
…..

Tunggu.

“DUA? KAMU BELI DUA?” aku baru sadar bahwa Chihaya membeli dua buah softcream
“D-diam! Enak kok, toh juga aku nggak sering-sering jajan macem ini” jawab Chihaya yang wajahnya mulai memerah.

Aaah, Chihaya punya sisi imut gini juga toh.

Akhirnya kami berdua lanjut mengelilingi area Harajuku hingga matahari terbenam. Setelah itu kami berdua kembali ke kantor. Chihaya kemudian pamit untuk kembali ke apartemennya.

————————————————————————–

Akhirnya hari untuk acara iDOL T@LK tiba. Aku dan Chihaya sudah datang duluan ke studio TV yang mengadakan acara tersebut. Acara hari ini akan ditayangkan secara LIVE, jadi Kotori di kantor sudah bersiap untuk merekam untuk ditonton bersama anak-anak 316 Pro yang lain.

“Siap Chihaya?” tanyaku pada Chihaya
“Siap producer. Aku sudah biasa.” jawabnya singkat.
“Jangan lupa senyum, kamu biasanya walaupun sudah sering–”

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Chihaya mendekatkan wajahnya ke aku dan tersenyum dengan sangat manis.

“Yang gini kurang?” tanya Chihaya.

Wajahku memerah.

“B-bodoh! Jangan tiba-tiba gitu juga!”

Chihaya tertawa kecil. Tak lama salah satu staff datang ke ruangan kami untuk memberi tahu bahwa iDOL T@LK akan segera dimulai.

Aku dan Chihaya berjalan menuju studio, di tengah perjalanan kami bertemu dengan seseorang yang tidak terlihat asing.

“Oh, tampaknya idol murahan juga diundang ke acara ini ya?”

Suara, gaya bicara yang sombong, dan wajah yang sangat ingin kuhajar itu, tidak salah lagi,

“Lama tak jumpa, Direktur Kuroi.”

Ya, dia adalah Direktur Kuroi, orang yang bertanggung jawab atas hilangnya semangat Chihaya beberapa tahun yang lalu. Orang yang paling ingin kuhajar habis-habisan dibandingkan orang lain di muka Bumi ini.

“Apa ini, aku kira acara ini hanya untuk para idol yang memang memiliki kualitas tinggi. Ternyata kecoak-kecoak 316 ada di sini juga!”

“Breng–”
Chihaya menarik lenganku, mencoba menahan aku yang sudah tidak bisa tenang.

“Oh kalau begitu, mengapa aku melihat lebih banyak album dan single milik idol 316 dan 346 Pro, direktur Kuroi?”

Chihaya membalas telak hinaan Direktur Kuroi, wajahnya terlihat sangat percaya diri, sedangkan Direktur Kuroi terlihat tersinggung dengan ucapan Chihaya.

“K-kecoak sialan! Kau tunggu saja nanti saat acara! Hahahahahah!”

Direktur Kuroi kemudian meninggalkan kami. Chihaya menghela nafas.

“Producer, serius deh, jangan terlalu gampang jadi panas seperti itu dong. Masa’ aku yang harus jaga producer?”

“M-maaf.”

Kami berdua lanjut berjalan menuju studio. Di dalam studio terlihat beberapa idol lain, salah satunya terlihat idol yang tidak asing di mataku.

“Oh, ada Kaede-san juga”

Ya, Kaede Takagaki, salah satu idol paling terkenal dari 346 Pro juga ada di acara ini.

Staff TV meminta semua idol untuk bersiap, 30 detik lagi acara akan dimulai.

“Berjuanglah Chihaya!” ucapku pada Chihaya.
“Ya, producer!”

————————————————————————–

10-15 menit berjalan, para idol ngobrol dengan santai. Chihaya juga terlihat santai dan banyak bicara. Aku bernafas lega karena semuanya berjalan lancar.

Hingga akhirnya MC memberikan sebuah pengumuman.

“Ah, hari ini kita kedatangan tamu spesial! Kalian semua tahu net idol Chit0se? Hari ini ia akan melakukan debut mainstream-nya! Langsung di studio ini!”

Oho, ada idol baru toh…

Seorang gadis muda berjalan menuju panggung. Tingginya kira-kira 163cm, badannya ramping, rambutnya berwarna pirang chestnut, bola matanya berwarna hijau emerald, dan dia memiliki senyuman yang manis… Hanya saja aku bisa merasakan itu bukan senyuman yang murni, terlihat seperti dibuat-buat.

Chit0se kemudian memperkenalkan dirinya secara formal. Nama lengkapnya adalah Chitose Kusanagi. Dan dia berada di bawah naungan…

“9-961 Productions?!”

Aku segera melihat ke arah Direktur Kuroi. Aku melihat senyuman bangsatnya. Dia pasti merencanakan sesuatu!

Sial, Chihaya, aku tidak memperhitungkan ini!

“Jadi, Chitose hari ini akan membawakan lagu apa?” tanya sang MC pada Chitose.

“Aa~h sebenarnya aku akan membawakan lagu cover dari kak Chihaya di sini. Aku akan mencoba menyanyikan Nemurihime.”

Chihaya terlihat terkejut, aku bisa melihat dari tatapan matanya yang terlihat sangat tidak nyaman.
Sial, aku tidak mempersiapkan Chihaya untuk kejutan semacam ini.

“Jadi, Chihaya-san, tolong lihat aku ya?” ucap Chitose genit.

Lampu dimatikan, spotlight mengarah ke Chitose, dan ia mulai menyanyi.

Suaranya merdu, sial, bahkan bisa aku bilang hampir selevel dengan Chihaya.

Chihaya terlihat sangat tidak nyaman, aku bisa melihat keringat yang menetes dari kepalanya.

Sial! Sial! Sial! Sial!
Kuroi, brengsek! Jadi ini rencanamu!

Chitose selesai bernyanyi. Ia duduk di samping Chihaya. Sang MC terlihat bersemangat untuk ngobrol bersama Chitose.

“Waaaah memang kok net idol kita sudah saatnya pergi mainstream! Tadi indah banget!” ucap sang MC

“Ahaha makasiiiih~! Ini semua karena kak Chihaya sudah menginspirasi aku untuk bernanyi!” ucap Chitose

“A-aah.” Balas Chihaya pelan.

Sial, bertahanlah Chihaya!

“Ah, dan aku barusan lihat jumlah views di channel milik Chitose-chan, bahkan melebihi jumlah penjualan single milik Chihaya lho!”

Chihaya terlihat shock. Ia langsung menundukkan kepalanya.

“Ah iya~ itu semua terima kasih ke para subscriber ku yang sudah mendukungku sejak lama! Terima kasih banyak yaaa~!”

Anak ini busuk. Aku bisa melihat langsung dibalik semua ucapannya, dibalik semua senyuman palsunya itu. Brengsek.

Aku tidak tahan melihat Chihaya tersiksa seperti itu.

Tanpa sadar, seorang pria berperawakan besar berdiri di sampingku. Ia terlihat memberikan perintah kepada Kaede-san yang duduk di samping Chihaya.

“Saya tidak suka senyuman anak itu. Itu bukanlah jenis senyuman yang akan saya hargai.”

Ya, orang ini adalah,
“TakeP?! Anda ada di sini juga?!”

TakeP, orang yang bertanggung jawab atas Cinderella Project 346 Productions. Producer legendaris yang bisa membangkitkan senyuman suci para idol dibawah bimbingannya, dan salah satu orang yang paling aku hormati.

“Ya, saya baru saja tiba dari menjemput Shibuya di salah satu acara radio dekat sini. Saya ingin melihat keadaan Takagaki-san.”

Aku melihat Kaede-san menghibur Chihaya. Chihaya masih menundukkan kepalanya. Tapi setidaknya dengan begini Chihaya tidak merasa sendirian di tengah set.

————————————————————————–

Acara selesai.

Aku dan Chihaya hanya terdiam di ruang ganti.

Chihaya masih menundukkan kepalanya. Ini sama seperti saat Chihaya mendapatkan skandal yang disebar luaskan oleh Direktur Kuroi beberapa tahun yang lalu.

Aku ingin menghibur Chihaya, tetapi aku tidak ingin menyakitinya lebih lanjut.

Aku bingung harus melakukan apa.

Suasana ruang ganti itu sunyi sekali. Aku bahkan sampai bisa mendengar putaran gir di dalam jam dinding yang terletak di atas cermin meja rias.

Aku tidak tega melihat Chihaya sesedih ini.
Aku ingin melakukan sesuatu.

“Producer, aku mau ganti baju” ucap Chihaya

“Ah, iya..”

Aku keluar dari ruang ganti. DI luar aku bertemu lagi dengan TakeP.

“Bagaimana? Sudah baikan?” tanya TakeP padaku

“Belum… Ini hal yang susah untuk saya dan Chihaya. Saya tidak tega melihat Chihaya seperti ini” balasku

“…. Kau tahu…”

TakeP kemudian menceritakan pengalamannya saat Mio Honda juga merasa putus asa sebagai idol. Ia juga merasa sedih dan stress karena tidak bisa membantu apa-apa. Tapi dengan usahanya memahami perasaan idolnya, ia akhirnya berhasil membujuk salah satu Cinderella-nya itu untuk kembali menunjukan senyumannya yang berharga untuk TakeP.

Power of Smile, ya…” gumamku
“Kau pasti bisa, AnP. Kembalikan senyuman Chihaya.”

TakeP membungkukkan badannya, ia pamit akan pergi duluan. Disampingnya terlihat Kaede yang juga berjalan menuju pintu keluar.

Kaede-san memang cantik ya…

Tiba-tiba pintu ruang ganti terbuka. Dari dalam terlihat Chihaya, dengan muka datarnya, memandangku.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Saat ini aku hanya bisa diam.

————————————————————————–

Setibanya di kantor, anak-anak 316 Pro terlihat khawatir ke Chihaya. Ami, Mami, Yukiho, Haruka, Makoto, dan yang lainnya terlihat sangat khawatir terhadap keadaan emosional Chihaya. Mereka mencoba menghibur sebisa mungkin, tetapi Chihaya terlihat memblokir semua apa yang dikatakan oleh orang lain.

Chihaya pamit pulang awal, aku mengijinkan dia. Setidaknya dia akan beristirahat dengan baik.

Ritsuko datang menghampiriku.

“Producer, ini bukan salahmu, jangan terlalu menghukum dirimu…” kata Ritsuko

Aku tidak bisa menjawab dengan pasti. Benarkah ini bukan salahku? Apabila aku kemarin lebih teliti melihat siapa guest-star nya, aku bisa menghindari hal ini.

“Producer, semangat dikit lah. Kalau producer ikut-ikutan down, nanti siapa yang bangkitin Chihaya?”

Di depanku terlihat Makoto yang juga memberikan semangat padaku.

“Niichan…”
Ami, Mami juga menunjukkan kekhawatirannya.

Aku terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang harus aku lakukan.

“Duh, producer kok nggak punya semangat gitu. Kalau gitu mending sini aku aja yang jadi producer!”

Aku melihat ke depan. Adalah Iori yang baru saja berkata seperti itu.

“Iori, ini bukan main-main.” ucap Ritsuko ke Iori.

“Kalau bukan main-main, harusnya producer juga nggak usah main-main! Balas dong perlakuan Kuroi itu! Ambil kembali senyuman Chihaya! Dan tunjukkan bahwa Chihaya adalah top idol yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun!”

Apa yang dikatakan Iori benar.
Aku harus bisa mengembalikan semangat Chihaya.

Secepatnya.

————————————————————————–

Jam kantor selesai. Aku bergegas segera meninggalkan kantor dan menghubungi Chihaya. Aku mencoba menelpon Chihaya, tetapi tidak ada jawaban. Aku mencoba mengirim mail ke Chihaya, tapi dia tidak juga segera membalas.

Aku berencana untuk pergi ke apartemen tempat tinggal Chihaya. Aku mengirim mail sekali lagi, menjelaskan niatanku pada Chihaya.

Aku duduk di kursi taman, menunggu balasan mail dari Chihaya. 10 menit, 15 menit, 30 menit, Chihaya tak kunjung menjawab. Akhirnya aku mencoba untuk menelponnya kembali, tapi belum sempat aku selesai menekan redial, Chihaya menelponku duluan.

“C-Chihaya! Aku tadi sudah mengirim mail–”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Chihaya membalas

“Iya, aku sudah baca. Maaf, aku baru saja bangun tidur. Kalau mau ke sini silahkan.”

Syukurlah. Ternyata Chihaya setidaknya sudah bisa kembali berbicara dengan normal.

Sebelum aku ke apartemen Chihaya, aku mampir ke sebuah toko cake untuk membeli sebuah ice cream cake. Tentunya rasa Vanilla, untuk menghibur Chihaya.

Setelah itu aku pergi ke stasiun kereta untuk pergi ke apartemen Chihaya. DI stasiun aku bertemu dengan Rin Shibuya, salah satu anak didik TakeP.

“Shibuya, malam.” sapaku
“Ah, AnP. Malam.” balasnya singkat

…..

…..

Ah… Ini kok jadi nggak nyaman gini.

“S-Shibuya rumahnya lewat sini rute ini ya?”
“I-iya.”

Aaaaaaghh…

Ternyata Shibuya nggak jauh beda dengan Chihaya. Anaknya sama-sama pendiam terhadap orang yang belum dikenalnya baik.

————————————————————————–

Aku sampai di apartemen Chihaya.
Jam menunjukkan pukul 8 malam.

Aku menekan tombol bel apartemen Chihaya, dengan cepat Chihaya menerima panggilan bel-ku.

“Tunggu sebentar, producer.”

Chihaya kemudian menutup pangilanku. Tak lama ia turun dan membukakan pintu apartemennya.

“Malam, Chihaya.” sapaku ke Chihaya.
“Malam, producer. Silahkan masuk.”

Aku masuk kedalam kamar Chihaya. Ini kedua kalinya aku masuk kedalam kamar ini, dan ironisnya, aku selalu kesini apabila Chihaya ada masalah.

“Chihaya, ini aku ada oleh-oleh.” Aku memberikan kotak cake yang aku beli pada Chihaya
“Ah, producer, nggak usah repot-repot”

“Enggak, ini cuma cake aja kok.”

Chihaya kemudian menaruh kotak cake itu di dapur dan mulai memotong ke beberapa potongan. Ia kemudian menaruh 2 potong di atas meja kecil yang terdapat di tengah kamarnya.

Kita berdua duduk di samping meja kecil itu. Setelah diam untuk beberapa saat, aku mulai membuka pembicaraan.

“Chihaya, tentang tadi di studio TV, aku minta maaf, aku tidak tahu Kuroi akan melakukan hal menjijikkan seperti itu.”

“Ah, ya… …aku juga minta maaf, producer. Aku shock untuk sesaat, aku tidak percaya bahwa ada orang lain yang bisa menyanyikan laguku, dan mengalahkan jumlah penjualanku…”

Chihaya menunduk, tapi lalu langsung menyendok ice cream cake yang ada di depannya.

“Wah enak.”

Egh…

“Kamu kelihatan cukup santai menghadapi ini, Chihaya.”
“Yah, producer mending mana, aku gini atau kembali seperti beberapa tahun yang lalu?”

Benar juga, setidaknya seperti ini aku bisa berbicara lancar ke Chihaya.

“Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan… Chitose memiliki lebih banyak fans daripada aku. Dan juga suaranya indah sekali.”

“Ah, lupakan itu Chihaya, kamu tetaplah seorang idol yang–”
“PRODUCER NGGAK TAHU PERASAANKU!”

Chihaya tiba-tiba menaikkan suaranya.
Aku terkejut, wajah Chihaya terlihat sedih lagi.

Chihaya bergerak menuju tempat tidurnya. Ia duduk di sampingnya, dan mengambil sebuah pigura foto. Chihaya mengusap foto yang terdapat di dalam pigura itu.

“Menyanyi adalah segalanya untukku. Kalau dalam hal itu saja aku tidak bisa menjadi yang terbaik, apa lagi yang bisa aku lakukan?”

Chihaya mengatakan itu sambil tersenyum sedih. Pandangan matanya menunjukkan keputus-asaan.

Aku hanya bisa terdiam, aku tahu betapa pentingnya menyanyi untuk Chihaya. Dan untuk mengetahui bahwa orang lain bisa membawakan lagu yang ditulis hanya untuknya dengan jauh lebih baik… Itu memang menyakitkan.

Aku harus melakukan sesuatu.

“Maaf, aku.. Akan keluar sebentar untuk mencari angin segar.”

Aku keluar dari kamar Chihaya. Di depan kamarnya, aku menelpon kenalan lamaku.

“Natsu? Ini aku. Malam ini bisa aku ke tempatmu?”
“Anchan? Tumben banget telpon. Nggak sibuk sama idolmu apa?” balas Natsu
“Justru ini untuk idolku.”

————————————————————————–

Aku mengajak Chihaya ke sebuah live house di tengah kota. Live house ini merupakan milik teman lamaku, Natsu, yang merupakan drummer / gitaris sebuah band rock indie yang cukup terkenal. Ia adalah seorang wanita rocker yang memiliki style kelewat rock n’ roll, bisa dibilang dia gabungan Natsuki Kimura dan Syoko Hoshi dari 346 Pro.

Keadaan live house saat itu cukup ramai, aku bisa melihat beberapa anak muda yang sedang nongkrong dan menkmati malam hari ini. Aku juga bisa melihat Natsu yang sedang ngobrol dengan beberapa teman-temannya.

Aaah, sudah lama aku nggak nongkrong di sini.

“Anchan!! Sudah lama kamu nggak main sini!” Natsu yang melihatku datang berlari menuju arahku

“Yah, kau tahu kenapa.” balasku singkat

“Masih belum bisa lupa… Tipikal Anchan banget”

Chihaya heran melihat seorang wanita bicara dengan sangat santai padaku. Aku memperkenalkan Chihaya ke Natsu.

“Chihaya, ini Natsu, teman lamaku, dia seorang drummer dan gitaris.”
“K-Kamu Chihaya?! Chihaya beneran?! UOOOOHHH!!” Natsu mendadak histeris.

Natsu menggenggam tangan Chihaya, Chihaya terlihat terkejut sekaligus tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“A-aku fans beratmu! Suaramu indah banget!” Natsu terlihat histeris dan ngak santai. Chihaya masih memasang muka shock nya.

“Anchan, kamu kok nggak bilang kamu producernnya Chihaya?! Gila! Hahahah!”

Natsu kemudian mengambil gitarnya, sebuah Gibson Les Paul berwarna cherry sunburst, dan meminta Chihaya untuk menandatanganinya.

“Heh, minta tanda tangan bayar 2500 yen dulu.” ucapku bercanda.
“Diam kamu!” balas Natsu.

Chihaya menandatangani gitar milik Natsu. Ia masih kelihatan heran dengan apa yang terjadi.

“Natsu, malem ini bisa live?” aku langsung meminta Natsu untuk membantuku.

“Yep. Aku ada bassist sama satu gitaris lagi di belakang. Kita bisa main full. Mau main lagu apa?”

Aku berjalan menuju Chihaya.

“Tunggu sini sebentar ya?”

Aku menyuruh Chihaya untuk berdiri di depan stage. Aku dan Natsu kemudian jalan menuju backstage dan mempersiapkan live kita malam ini.

“Kamu… Lihat NXT TakeOver: Toronto? Terutama bagian video packagenya DIY vs. The Revival?” ucapku ke Natsu.

“Jelas dong. Lagu itu jadinya?”

“Yep.”

————————————————————————–

Akhirnya aku naik ke atas stage. Natsu akan menjadi drummer, aku akan menjadi lead guitar, ditemani dengan rekan band Natsu.

“Woi semuanya!! Tebak siapa yang balik nih!” Teriak Natsu dari atas stage.

“Eh, itu AnVi?”
“Eh iya, AnVi!”
“EH ANJIR, ANVI BALIK?!”

Aku bisa mendengar ucapan orang-orang yang berkumpul di depan stage. Tampaknya mereka masih mengenalku.

“Yo guys! Malam ini malam yang cukup spesial buat aku, dan maaf ya, tapi aku cuma dateng buat mainin satu lagu, khusus buat nona di depan itu.”

Orang-orang yang berkumpul melihat ke arah Chihaya. Aku tahu ini agak nggak bertanggung jawab, cuma yah, biarlah Chihaya merasakan perhatian orang banyak.

WELCOME BACK, ANVI!!!”
“UOOOOOHH!!!!”

Dasar, tampaknya anak-anak ini masih ingat siapa aku. Padahal sudah bertahun-tahun aku nggak datang ke sini. Aku melihat Chihaya yang berdiri tepat di depan stage. Ia terlihat kaget karena banyaknya orang yang mengenalku.

“Eh, itu Chihaya kan? Super idol yang selalu menduduki puncak chart?”
“Eh iya itu Chihaya! Anjir kok bisa ada di sini? Guest star?”

Orang-orang mulai bergumam. Chihaya mulai terlihat kurang nyaman, waktunya aku beraksi.

Aku menganggukkan kepala ke Natsu, Ia mulai mengetuk stick drum-nya.

1, 2, 3, 4.

————————————————————————–

“Who knew you’d be hated for being who you are….
…And be a big target for all the insecure…”

Natsu mulai memukul drum-nya. Anak-anak band yang lain juga mulai memainkan instrumen mereka.

Aku menarik nafas.
Show time.

“ALL ALONE IN A WALL-LESS PRISON!
DIDN’T FORGET AND YOU’RE NOT FORGIVEN!
Live everyday with the pain in the back of my mind.
Torture doesn’t begin to describe it!”

“I won’t forget, I won’t forgive, I won’t forget”

“WHO KNEW YOU’D BE HATED FOR BEING WHO YOU ARE
AND BE A BIG TARGET FOR ALL THE INSECURE
There’s a bullseye painted on our chests
In the crosshairs of the ignorant
But I am not your scapegoat anymore…”

“All alone with my own decisions
I try to scream but you never will listen
It took a while but you’re finally out of my life
And I swear there’s no better feeling”

“I won’t forget, I won’t forgive, I won’t forget”

————————————————————————–

Aku bisa melihatnya.
Tatapan Chihaya yang terkejut, melihat aku seperti orang gila bermain gitar di atas stage di dalam live house itu. Aku sendiri menemukan kembali sebuah sisi yang aku pendam jauh di dalam diriku.

Kumpulan orang yang berkumpul di depan stage terlihat bersemangat. Mereka ikut bernyanyi bersamaku. Kita semua mendapatkan performance yang sangat bertenaga malam itu.

Dan Chihaya… Dia masih terkejut.
Aku mengedipkan mata ke arah Chihaya.

Chihaya tertawa kecil.
Ah, akhirnya ia tersenyum.

Aku turun dari stage langsung melalui depan. Aku berjalan menuju Chihaya, melompati pembatas stage dan area penonton, kemudian memeluk Chihaya.

“Semangat Chihaya. Aku juga pernah merasakan rasanya gagal menjadi yang terbaik untuk seseorang.”

“Producer…”

Aku menceritakan sedikit masa lalu ku ke Chihaya.

“Dulu, menjadi gitaris dan leader band ini adalah segalanya bagiku. Tapi kemudian sebuah masalah datang menghampiriku, dan aku tidak bisa lagi menjadi yang terbaik bagi mereka.”

Aku melepaskan pelukanku, aku menatap dalam ke Chihaya.

“Tapi kau tahu? Sekarang, kau adalah segalanya untukku, Chihaya.”

Chihaya terkejut. Ia terlihat tidak dapat berkata apa-apa. Ini adalah saatnya aku mencairkan suasana. Aku membuat sebuah pengumuman kepada orang-orang yang ada di live house,

“WOI GUYS! INI CHIHAYA KISARAGI! IYA, SUPER IDOL YANG PUNYA SUARA BAGAIKAN MALAIKAT ITU! Dan kalian tahu? DIA IDOL BIMBINGANKU LOH!”

Semua orang terdiam, mereka melihat ke arah Chihaya.

“BANGSAAATT!! ANVI TERNYATA JADI PRODUCER IDOL TOH SEKARANG, HAHAHAH! PANTESAN GA BALIK-BALIK KE SINI!”

Salah satu cowok yang ada di area penonton menggodaku, mereka semua akhirnya tertawa, begitu juga Chihaya

Setelah mereka tenang, satu persatu dari mereka memberitahu Chihaya bahwa mereka ternyata juga suka kepada Chihaya.

“Suaramu itu superb banget, tapi sayang nggak cocok buat nyanyi rock sih.”
“Personality Chihaya yang pendiam tapi bisa senyum juga itu imut banget! Ah, aku rutin nonton Namassuka Sunday! Lho!”
“A-aku ikut khawatir waktu kamu kena kasus skandal beberapa tahun yang lalu Chihaya! Jangan sampai sedih lagi ya!”

Dan masih banyak ucapan-ucapan lain untuk Chihaya dari kumpulan orang yang ada di dalam live house. Chihaya tersenyum bahagia, aku mendorong pundaknya,

“Bilang sesuatu, kek”

Chihaya melihat ke arahku. Ia sedikit cemberut, tapi kemudian memberikan senyuman yang sangat manis.

“A-aku tidak akan sedih lagi! Bahkan walaupun aku diserang oleh skandal dan yang lainnya, aku akan tetap bernyanyi!”

“YEAAAAH!!!”

Chihaya tersenyum lepas, ia terlihat ingin mengatakan lebih dari itu.

“Karena aku yakin, producer akan melindungku dari hal itu. Ya kan, producer?”

Chihaya kemudian menggenggam tanganku, dan memeluk lenganku. Orang-orang yang ada di live house terlihat mulai menatapku tajam.

“Oi, oi AnVi… Kamu pacaran sama Chihaya? Wah skandal nih.” ucap salah satu penonton di live house itu.

“N-NGGAK KOK! YANG BENER AJA, BISA JADI SKANDAL BENERAN ITU!”

Kami semua tertawa lepas. Chihaya kemudian berkata lagi,

“Mulai sekarang, aku tidak akan memikirkan hal-hal negatif itu. Aku akan…. Just Be Myself!

Chihaya kemudian naik ke atas stage.

“Producer, ada kan?”

Aku mengerti maksud Chihaya. Aku kemudian berjalan ke bagian sound, dan menghubungkan smartphone ku ke aux out.

“Ada kok, go Chihaya!”

Chihaya kemudian memberikan performance kepada para penonton di live house. Ia menyanyikan lagu miliknya, Just be Myself!

Dalam sekejap, live house yang harusnya memiliki feel rock berubah menjadi konser solo Chihaya. Agak lucu juga sih, ternyata anak-anak ini juga suka dengan lagu idol.

“AnP memang producer hebat ya. Atau aku harus bilang, AnVi, sang gitaris legendaris band rock indie?”

Dari belakangku terdengar suara yang tidak asing.

“Memang kok, AnVi itu rock banget!”

Ternyata Natsuki Kimura dan Riina Tada, idol 346 Pro juga ada di sini

“Eh kalian?! Ngapain malam-malam ke sini?” Tanyaku heran

“Ngomong apa, producer? Ini tongkrongan wajib kita kalau besok hari off. Dan kebetulan kita dapet tayangan eksklusif hari ini nih!” Jawab Natsuki

“Lagipula Natsu-nee yang punya live house ini juga biasa pinjemin kita stage kalau pingin nyanyi, jadi hubungan kita disini mutual lah!” lanjut Riina

Yah, nggak heran sih, mengingat mereka sama-sama rocker. Sebetulnya kurang satu lagi sih…

“A-aku juga ada di sini, eheheh.”

Yap, Syoko Hoshi juga ada, dan dia entah kenapa jongkok di samping Natsuki.

————————————————————————–

Akhirnya semuanya selesai.

Aku mengantar Chihaya kembali ke apartemennya, di depan apartemen aku ngobrol sebentar bersama Chihaya.

“Besok kita pikirkan rencana untuk membalas Kuroi, malam ini istirahatlah dengan tenang.” Ucapku pada Chihaya

“Ya, producer juga jangan tidur malam-malam.” balasnya

Aku kemudian pamit pada Chihaya, tapi sebelum aku berjalan jauh, Chihaya mengejarku.

*kiss*, Chihaya mencium pipi kananku

“Dasar, ntar ada skandal lagi repot lho.”

“Ya kan nanti producer yang bakal lindungi aku.”

“Ya deh, ya. Selamat malam, Chihaya”

“Selamat malam, producer”

————————————————————————–

Esok paginya di kantor, aku mendiskusikan rencana untuk menaikkan kepopuleran Chihaya. Aku berdiskusi ke Ritsuko dan Jason yang juga ada di kantor. Aku bilang ingin mengadakan sebuah konser kecil yang memiliki feel kedekatan antara Chihaya dengan para fans nya.

“Pro-du-cer! Budget kita nggak cukup untuk bikin sesuatu seperti itu!” Ujar Ritsuko yang menolak rencanaku

“Tapi aku butuh ini!” balasku kepadanya

“Iya aku tahu, tapi kalau kita nggak ada dananya mau gimana juga?”

Sial, aku harus memikirkan cara lain.

“Eh, aku dapet tawaran buat jadi salah satu performer di salah satu acara musik di Tokyo TV, kita bisa masukkin Chihaya ke acara itu kan?” ujar Jason yang dari tadi diam.

Benar juga, acara TV juga tidak buruk. Tapi aku butuh impact, sesuatu yang bisa menunjukkan Chihaya dekat dengan semua orang. Aku butuh…

“Duet.” ujarku.
“Hah?” Ritsuko heran

“Aku butuh pasangan duet untuk Chihaya. Aku harus menunjukkan bahwa Chihaya bukan seorang super idol yang jauh dari jangkauan orang, aku harus menunjukkan sisi ramah dari Chihaya.”

Tapi siapa…
Dan di saat itulah, seorang idol datang melewati pintu kantor.

“Pa-pag– … Kenapa kok kalian melihat ke arahku…”

Yukiho Hagiwara.
Sempurna.

“Yukiho, kamu mau nggak konser live di depan banyak orang bareng Chihaya?”

Yukiho terlihat ragu.
Aku mendekati Yukiho.

Yukiho terlihat takut.
Aku lari ke arah Yukiho.

“P-p-p-p-producer!!!! A-aku gali lubang aja!!!!!”
“YASUDAH SINI AKU BANTUIN BIAR CEPET KELAR”
“KYAAAAAAA!!!!!!”

————————————————————————–

Akhirnya kita setuju untuk memasangkan Chihaya dengan Yukiho. Mereka berdua akan membawakan lagu baru berjudul Little Match Girl, lagu yang ditulis untuk Yukiho, tetapi cocok untuk dibawakan berdua dengan Chihaya.

Dan dimulailah latihan dance dan vokal untuk acara iDOL B@TTLE. Aku bisa melihat dedikasi Chihaya untuk menjadikan live mereka sukses.

Akhirnya hari Minggu tiba, waktunya untuk tampil di acara musik itu. Jelas, bukan hanya 316 Pro yang akan tampil di acara itu. Dan kali ini, aku mendapatkan daftar guest-nya, termasuk…

“Chitose Kusanagi bakal datang juga. Kau tidak apa-apa, Chihaya?”

“Producer, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. Aku hanya ingin hari ini aku bisa memberikan yang terbaik untuk fans

“Bagus.”

Jason yang ada di sampingku juga memberikan semangat kepada Yukiho.

“J-jangan gugup ya nanti di depan kamera” ucap Jason
“I-iya producer, n-nanti kalau aku gugup aku bakal gali lubang aja!”

…. Berjuanglah, Yukiho.

Aku dan Jason mengantarkan Chihaya dan Yukiho ke studio. Di sana aku bisa melihat TakeP yang juga mengantarkan idolnya, dan juga si brengsek Kuroi.

Akhirnya acara dimulai. Acara dibuka dengan Jupiter yang membawakan lagu barunya, Planet Scape

Setelah mereka selesai, waktunya Chitose untuk tampil, dan sesuai dugaan, ia membawakan lagu milik Chihaya, Arcadia

Aku bisa melihat senyuman busuk Kuroi, tapi aku tak peduli. Aku melihat ke arah Chihaya, dan ya, Chihaya tidak terpengaruh sama sekali pada performance Chitose.

Akhirnya, giliran Chihaya dan Yukiho untuk tampil.

“Se-semuanya apa kabar! Ha-hari ini aku dan Chihaya akan menampilkan lagu baru! Tolong dengarkan kami, Little Match Girl!”

Chihaya dan Yukiho tampil dengan sangat baik. Mereka berdua sinkron dan sangat mendalami lagunya. Ini Chihaya yang aku tahu, Chihaya yang sudah meninggalkan sarangnya. Chihaya yang sudah bangun dari tidurnya.

Aku bisa melihat Kuroi dan Chitose yang mulai terlihat marah. Hah! Kau kira Chihaya akan selemah itu untuk tunduk padamu?!

————————————————————————–

Acara selesai, Chihaya dan Yukiho kembali ke ruang ganti.

Aku dan Jason menunggu di luar ruang ganti. Aku berterima kasih banyak kepada Jason yang telah memberikan spotlight milik Yukiho pada Chihaya. Jason cuma membalas, “Yah, sesama producer harus saling dukung kan? Haha”.

Akhirnya Chihaya dan Yukiho selesai ganti baju. Kita memutuskan untuk makan siang bersama. Jason mengajak kami ke sebuah restoran steak yang ada di dekat studio TV.

Di perjalanan menuju restoran, Chihaya berbicara padaku.

“Terima kasih untuk satu minggu ini producer, kau menunjukkan banyak hal baru untukku.”

“Kau juga Chihaya, terima kasih sudah percaya padaku.”

Kami berdua terdiam sesaat.

“Aku baru tahu producer dulunya rocker
“Yah, aku memang berusaha menutup masa laluku sih, lagipula aku sekarang bukan rocker lagi.”
“Hmm? Lalu sekarang apa lho?”
“Masih tanya?”

Aku berhenti sejenak, memegang pundak Chihaya, kemudian berkata,

“Aku producermu Chihaya, dan aku nggak akan mengecewakanmu.”

Chihaya tersenyum, kemudian berkata,

“Dan aku idolmu, producer. Jangan pernah kecewakan aku.”

Chihaya kemudian memeluk lenganku. Kami melanjutkan perjalanan menuju restoran steak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s