[Chapter 2 of 3] Even If… (R18)

“Jadi… Kita pacaran?” tanya Aya.
“Kita pacaran.” Balas Adrian.

Akhirnya Adrian secara resmi berpacaran dengan Aya, melalui serangkaian kejadian yang cukup absurd dan susah diterima akal sehat, mereka akhirnya meresmikan hubungan mereka berdua. Aya langsung memeluk erat leher Adrian, ia dipenuhi dengan kebahagiaan.

Di sisi lain, Adrian masih merasa kebingungan. Dirinya tidak menyangka bahwa cinta pada pandangan pertamanya akan tercapai semudah ini.Tapi bukan berarti Adrian tidak mensyukuri hal ini, dari pandangan matanya, senyuman halusnya, bisa terlihat bahwa Adrian juga sangat-sangat bahagia.

Adrian tetap berada di bawah tubuh Aya untuk beberapa saat. Tubuh Aya yang proposional bagaikan supermodel menindih tubuh Adrian yang cukup besar. Adrian memeluk pinggang Aya yang berada tepat diatas perutnya.

“Yatuhan mulus banget” pikir Adrian dalam hati.

Aya semakin memeluk erat Adrian yang terlentang di lantai, ia menaruh kepalanya di bagian pundak sebelah kiri Adrian. Adrian mencium pipi sebelah kanan Aya, pipi yang sangat halus dan lembut, menandakan Aya merawat kulitnya dengan sangat baik, Adrian menarik tangan kirinya dari pinggang Aya dan mengelus rambut Aya, rambut coklat muda yang juga terasa halus dan empuk.

Adrian mencium bau harum dan manis dari tubuh Aya, kemungkinan bau ini dihasilkan oleh sabun mandi yang Aya gunakan. Adrian suka sekali dengan tipe-tipe bau yang manis seperti ini, seperti bau bubblegum, permen, dan bunga-bunga yang memiliki bau ringan.

Aya kemudian menarik kepalanya dari pundak Adrian, lalu memberikan satu kecupan lagi ke bibir Adrian, sebuah kecupan ringan penuh cinta oleh Aya.

Adrian bisa melihat ekspresi wajah Aya, mata Aya yang menyipit, senyumannya yang tipis, semua bahasa tubuh yang melambangkan bahwa Aya sedang mabuk dalam cinta. Adrian sendiri tidak jauh berbeda, ia sudah menunggu lama untuk bisa mendapatkan seorang wanita.

Adrian dan Aya tetap diam di lantai untuk beberapa saat. Adrian melihat kearah jam yang ada di samping kasurnya, pukul 11.00 siang. Adrian akhirnya mencoba untuk bangkit duduk. Aya merasakan hal ini dan ikut mengangkat badannya untuk duduk di samping Adrian.

“Lalu… Kita ngapain ini?” Tanya Adrian.
“Untuk awalan, kenapa kita nggak unpacking barang-barangku dulu?” balas Aya.

“Tunggu, apa?”
“Unpacking. Jelas aku bakal tinggal sama kamu kan?”

Aya tersenyum seperti tanpa ada rasa salah apapun. Adrian juga ikut tersenyum, bedanya, di dalam kepala Adrian sedang berkata, “Kamu serius?”.

Aya bersikeras untuk tinggal bersama Adrian. Adrian yang curiga jangan-jangan Aya melarikan diri dari ruma, tetapi Aya langsung membantahnya dan bilang bahwa Aya memiliki sebuah apartemen di pusat kota. Aya hanya ingin sedikit ketenangan dan sebuah suasana baru.

Adrian tetap merasa aneh, tapi melihat Aya yang sangat keras kepala untuk hal ini membuat Adrian menyerah. Akhirnya Adrian mulai membantu Aya membongkar kopernya. Adrian memperhatikan satu per satu baju yang Aya bawa, ia ingin mengenal Aya lebih jauh.

Dan sampailah Adrian ke bagian lingerie di dalam koper, tapi belum sempat Adrian menyentuh bra dan celana dalam Aya, Aya langsung menarik lengan Adrian.

“Jangan.” ucap Aya singkat.
“Maaf.” balas Adrian.

Walaupun begitu, Adrian tidak bisa semudah itu mengalihkan perhatiannya dari koleksi lingerie milik Aya. Ada satu yang bermotif stripes warna merah-putih, ada satu lagi yang berwarna biru-putih, dan ada juga…

“Itu.. Lingerie set Haruna dari Kantai Collection… Kan?”

Adrian tidak sadar ia mengeluarkan suara saat ia memikirkan hal itu, alhasil Aya mendengar apa yang dipikirkan oleh Adrian. Wajah Aya memerah, ia kemudian mencubit perut Adrian.

“Mesum” ucap Aya singkat.
“Maaf.” Balas Adrian.

Tapi Adrian memikirkan hal lain, ia heran kenapa Aya membawa banyak baju ganti kalau ia hanya berencana untuk menginap di hotel selama beberapa hari? Dengan jumlah pakaian sebanyak ini, Aya terlihat seperti orang yang memang berniat untuk kabur dari rumah.

Dan akhirnya Adrian bertanya kembali,

“Kamu beneran nggak kabur dari rumah kan?” Tanya Adrian.
“Adrian, aku wanita dewasa yang sudah bisa hidup sendiri, nggak mungkin aku kabur dari rumah.” jawab Aya.

Akhirnya Adrian membuang jauh-jauh pemikirannya tentang Aya kabur dari rumah. Aya adalah perempuan yang sudah cukup dewasa untuk hidup sendiri. Dan disinilah tiba-tiba Adrian terpikir hal lain.

“Kamu nggak kabur dari suami kan?”
“…………”

Aya yang mendengar ini langsung menaruh telapak tangannya di wajahnya, atau yang lebih dikenal sebagai ‘facepalm’. Setelah beberapa saat, Aya melihat Adrian dengan tatapan yang seakan berkata “Seriously bro?”.

“Adrian, segitu banget ya kamu curiga ke aku sehingga kamu bertanya hal-hal aneh?”
“Nggak, aku cuma… Aku nggak mau misal aku hanyalah pelarian dari masalah yang ada…”

Aya merangkak ke arah Adrian, Aya kemudian mencium Adrian kembali.

“Aku nggak lari dari apapun. Percayalah. Setidaknya bukan untuk masalah keluarga.” ucap Aya seusai mencium Adrian.
“Yeah… Maaf aku terlalu paranoid.”

—————————————————————————————————————————————————————-

Akhirnya Aya dan Adrian selesai merapikan semua barang milik Aya. Sekarang lemari pakaian Adrian terlihat cukup penuh karena tambahan pakaian milik Aya. Meja di bawah cermin di pojok ruangan juga penuh dengan beberapa kosmetik dan parfum milik Aya. Dalam sekejap kamar cowok Adrian menjadi kamar wanita dewasa.

Dan disinilah Aya menyadari, ia butuh lemari baru untuk baju-bajunya yang lain. Ya, masih ada beberapa pasang pakaian milik Aya yang belum masuk kedalam lemari. Jam menunjukkan pukul 1 siang, masih tersisa banyak waktu sebelum hari libur Adrian selesai. Aya mendekati Adrian yang sedang menonton TV dari kasurnya.

“Adrian.. Mau keluar? Aku butuh lemari lagi..” Kata Aya.
“.… Serius?”

Akhirnya Adrian ganti baju, ia menuruti permintaan Aya untuk keluar membeli lemari. Adrian mengambil kunci motornya di atas kulkas kecil miliknya. Saat keluar dari kamar, Adrian bertemu dengan induk semangnya, Ibu Sayaka.

“Ah, Adrian, mau keluar?” tanya bu Sayaka.
“Ah, iya bu, mau beli lemari lagi.” jawab Adrian.
“Pasti buat tempat figure-figure lagi kan?” balas bu Sayaka.
“Enggak bu.…Buat lemari baju pa–car saya…”

Adrian sadar bahwa mengucapkan kata ‘pacar’ adalah hal yang cukup aneh baginya. Ia tidak biasa mengeluarkan kata ‘pacar’ tanpa merasa sedikit geli dari dalam mulutnya. Bu Sayaka mendengar kata ‘pacar’ dari Adrian menengok ke belakang Adrian, terlihat Aya yang juga membuang pandangannya ke arah lain dengan wajahnya yang memerah.

“Ara-ara, pasangan baru toh rupanya.. Fufu~” ucap bu Sayaka dengan nada yang sedikit menggoda.

Wajah Adrian dan Aya langsung memerah.

“Apa.. Jangan sampai belepotan ke dinding ya nanti, susah kalo udah kena noda.” ucap bu Sayaka sambil menahan tawa.

“BU!” Adrian terkejut dengan kata-kata bu Sayaka.

Bu Sayaka berjalan menuju kamar di sebelah kamar Adrian, tampaknya bu Sayaka akan menagih uang bulanan dari beberapa orang yang belum bayar. Adrian sendiri belum membayar uang bulan ini, nanti saat kembali dari belanja ia akan membayarnya.

Adrian menyalakan motornya, ia memberikan Aya satu helm lagi yang merupakan helm darurat apabila ada orang yang menumpang dirinya untuk pulang bareng.

“Ini udah kena kepala siapa aja?” Tanya Aya.
“Yah, belum kena kepala siapa-siapa… Aku nggak ada temen..” Balas Adrian.

Adrian kemudian naik, diikuti oleh Aya yang duduk menyamping di belakangnya. Aya memeluk erat Adrian yang sedang menyetir.

“Maaf aku nggak datang lebih cepat.” Ucap Aya pelan.

“Hah? Kamu ngomong apa?” tanya Adrian.
“Ngg, nggak apa-apa.”

Adrian membawa Aya ke daerah pusat pertokoan di dekat flat. Disana terdapat beberapa toko yang menjual bermacam-macam barang, ada toko yang menjual beberapa furniture buatan tangan yang sangat rapi, ada juga toko khusus cosplay dan hobby, dan tentunya beberapa restoran dan café.

Area ini bukanlah area indoor seperti mall-mall di bagian pusat Tokio, area ini lebih seperti shopping street. Beberapa toko kecil berjejer rapi sepanjang jalan ini.

Adrian memarkirkan motornya di samping area pertokoan, di sebuah area parkir kecil yang memang disediakan oleh developer area itu. Adrian melepaskan helm dari kepala Aya, rambut Aya sedikit kusut akibat tertutup helm selama perjalanan.

“Ngg, ngg” ucap Aya ketika rambutnya dirapikan oleh Adrian.

Adrian kemudian menggantungkan kedua helmnya disamping jok motornya. Aya memeluk lengan kiri Adrian, dan akhirnya mereka berdua berjalan menuju shopping area. Saat itu shopping area sedikit sepi karena masih siang, biasanya area ini akan penuh dengan orang.

Di sebelah kiri dan kanan jalan berjejer toko-toko dengan dekorasi yang lucu dan bagus, jajaran toko yang memiliki cat warna pastel ringan. Biru muda, hijau, pink, warna-warna yang terasa manis yang membuat siapapun yang berjalan melalui area ini akan merasa senang.

Aya melihat beberapa toko yang ada disana, ada toko yang menjual beberapa baju cantik, ada toko yang menjual mainan, ada toko permen, toko bunga, dan yang paling menarik perhatian Aya adalah sebuah café crepe di dekat jalan masuk shopping area.

“A-Aku mau itu..” ucap Aya sambil menarik lengan Adrian.
“Ah, nanti ya? Katanya mau beli lemari dulu?” jawab Adrian.

“He-eh. Beli lemarinya dimana?” tanya Aya.
“Itu di depan ada pengrajin furniture langgananku, barangnya murah tapi tahan lama.”

Adrian dan Aya sampai di toko yang dimaksud oleh Adrian, tokonya terletak di tengah persimpangan jalan. Di luar toko terlihat seorang pria berbadan tegap yang sedang memoles kursi kayu, tampaknya pria tua ini adalah si pemilik toko yang juga membuat furnitur-furnitur ini.

Pak Haga sendiri adalah teman masa kecil bu Sayaka. Adrian mengenal pak Haga saat dia membantu Adrian menata kamar flat-nya saat pertama kali datang, jadi Adrian dan pak Haga memiliki hubungan yang baik, terkadang pak Haga juga mengajak Adrian untuk minum bersama apabila Adrian mendapatkan shift pagi.

“Pak Haga!” sapa Adrian kepada pak Haga.
“Oho! Adrian! Tumben kesini, butuh apa lagi kali ini?” balas pak Haga.

Pak Haga terdiam sebentar saat melihat Aya yang memeluk lengan Adrian. Yah, memang Aya adalah seorang wanita yang sangat cantik, jadi tidak heran siapapun yang melihatnya akan merasa terkena sihir untuk sesaat.

“Itu.. Kakakmu?” tanya pak Haga pada Adrian.
“Pacar saya, pak.” balas Adrian

Pak Haga menjatuhkan kain lap yang dipegangnya, ia terkejut dengan jawaban Adrian.

“IMPOSSIBRU!” teriak pak Haga.
“PAK, INI BENERAN PACAR SAYA!”

Mendadak keadaan menjadi hening sesaat.

Pak Haga mengambil kembali lap yang dijatuhkannya tadi. Ia masih tidak percaya Adrian yang beberapa bulan lalu ia bantu merapikan kamarnya sekarang sudah punya pacar, terlebih lagi, seorang wanita yang sangat cantik.

“Maaf, saya kira kamu kakaknya Adrian… Jadi, pacar ya?”
“Saya Aya, salam kenal”

Aya menyapa pak Haga yang masih terkejut karena Adrian memilikki seorang pasangan sekarang. Tapi pak Haga teringat sesuatu, nampaknya ia merasa pernah melihat Aya, entah dimana.

“Nona Aya… Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya pak Haga pada Aya.
“Sa-saya yakin kita baru pertama kali ini bertemu” Jawab Aya.

Pak Haga masih merasa yakin pernah melihat Aya di suatu tempat. Pak Haga menggaruk kepalanya sebentar, kemudian menyerah untuk mengingat-ingat kembali.

“Keajaiban itu beneran nyata ya.. Baiklah, jadi, kamu butuh apa hari ini?” Tanya pak Haga ke Adrian.
“Oh, saya butuh lemari baju pak, kalau bisa yang desainnya minimalis…” jawab Adrian.

“Lemari baju? Bukannya yang kapan hari itu udah cukup besar?”

“Buat Aya, pak, bajunya banyak banget.”
“KAMU TINGGAL BARENG NONA CANTIK INI?!”

Pak Haga kembali terkejut, kain lap yang dipegangnya kembali terlepas dari genggaman tangannya.

“Geh, baiklah. Didalam ada beberapa lemari minimalis, ayo lihat dulu.” kata pak haga sambil berjalan masuk ke dalam tokonya. Adrian dan Aya menyusul di belakang pak Haga. Sepanjang lorong tokonya berisi furniture-furniture handmade yang semuanya didesain sendiri oleh pak Haga.

Akhirnya mereka sampai di bagian dalam toko pak Haga, sebuah ruangan yang cukup besar berisi berbagai macam lemari. Pak Haga mempersilahkan Adrian dan Aya untuk melihat-lihat dan memilih mana yang akan mereka beli.

Aya melihat sebuah lemari ramping berwarna putih dengan beberapa garis hitam, ia merasa lemari ini cocok untuk dijadikan lemari bajunya. Adrian sendiri memang telah mengincar lemari itu sejak sampai di dalam ruangan ini.

“Mau yang itu?” tanya Adrian ke Aya.
“Yes!” jawab Aya singkat. Aya tersenyum kearah Adrian dan memeluk lengannya.

“Pak Haga! Berapa harga lemari yang itu?” tanya Adrian ke pak Haga.
“200,000yen.” Jawab pak Haga.

“Serius?”
“Sebetulnya nggak sampe segitu, Cuma ngelihat kamu mesra-mesraan sama pacarmu aku jadi nggak terima.”

“Pak…”
“Ah, nggak apa-apa, aku yang bayar.” Aya mengeluarkan dompetnya dari tas kecil yang dibawanya.

“Aaah, nggak, aku aja yang bayar.” Adrian dengan cepat menahan Aya.
“Adrian, aku yang butuh lemarinya, jadi harusnya aku yang bayar.”

Aya kemudian membayar lemari yang ia beli, pak Haga menerima uang yang diberi oleh Aya, dan segera bersiap untuk mengirim lemarinya ke flat Adrian.

“Well, uang adalah uang! Kamu tega banget ke pacarmu ya, Adrian.” ucap pak Haga dengan muka datar.
“Yang minta harga tinggi juga siapa?” balas Adrian ke pak Haga

Pak Haga sendiri memasang harga 5,000 yen untuk lemari itu, membuat Aya tidak perlu membayar harga yang tidak masuk akal seperti 200,000yen untuk sebuah lemari.

Pak Haga kemudian berjalan ke belakang toko, Aya kemudian mengajak Adrian untuk mampir ke café yang terletak di depan distrik pertokoan. Adrian dan Aya pamit ke pak Haga untuk pulang, dan mengkonfirmasi kembali alamat flat Adrian.

Aya kemudian memeluk lengan Adrian dan menyeretnya ke café tersebut. “Selamat datang!” ucap salah satu pelayan yang berdiri di belakang pintu masuk. Pelayan ini adalah seorang cewek muda, sekitar 17-19 tahun? Dan memiliki rambut berwarna hitam yang terlihat sangat halus.

Pelayan tersebut membawa Aya dan Adrian ke tempat duduk untuk 2 orang di samping jendela depan café.

Café ini cukup luas, terlihat beberapa meja yang tertata rapi didalamnya. Kebanyakan didesain untuk 4 orang, tapi ada juga meja kecil yang didesain untuk couple semacam yang diduduki oleh Aya dan Adrian. Di ujung pembatas ruangan di dekat Adrian terlihat sebuah dispenser air mineral yang bisa dikonsumsi secara gratis.

“Mau pesan apa?” tanya pelayan itu, terlihat senyuman manis di wajah mungilnya.
“Ah, aku mau cream custard crepe sama chocolate soda.” ucap Aya yang sudah memperhitungkan apa yang akan dipesannya sejak masuk ke distrik pertokoan.

“Ah, aku… Aku… Sama dengan nona ini saja.” ucap Adrian
“Baiklah, jadi dua cream custard crepe dan dua chocolate soda?” tanya pelayan itu.
“Yes!” balas Aya.

“Mohon ditunggu sebentar~”

Pelayan itu kemudian meninggalkan Aya dan Adrian, ia kemudian berjaga di samping dapur café, bersiap kalau ada pesanan yang keluar untuk segera diberikan kepada tamu yang memesannya.

“Tempat ini nyaman ya?” tanya Aya pada Adrian.
“Hmm? Aku baru pertama kali sih kesini, tapi memang décor-nya lucu..” jawab Adrian.

Bagian dalam café didominasi dengan warna pastel ringan yang memberikan kesan ‘imut’ untuk café ini. Adrian menganggap warna-warna yang ada mirip dengan dress yang dipakai oleh Alice dalam Alice in Wonderland-nya Walt Disney.

Tak lama kemudian, pesanan Aya dan Adrian datang, cream custard crepe dan chocolate soda yang terlihat sangat manis. Cook-nya memberikan garnish buah Strawberry dan Kiwi yang terlihat sangat cantik di samping crepe itu, dan di dalam chocolate soda ada es krim coklat yang juga terlihat manis.

“Uwaaaaa~ Cantiknya~” mata Aya terlihat sangat bersemangat, yah, crepe di depan matanya memang terlihat sangat menggoda.
“Udah, dimakan, jangan diliatin aja” ucap Adrian

Aya menggigit custard crepe yang dipesannya, custard kental dan manis dari dalam kulit crepe keluar ke dalam mulut Aya. Aya menunjukkan wajah bahagia karena crepe yang dikonsumsinya sesuai dengan harapan Aya, kental, manis, dan hangat.

“Haup♥ Munya-munya~♥” suara yang dikeluarkan Aya saat menyantap crepe itu.

Adrian juga segera menyantap pesanannya, Adrian mengalami sedikit masalah menelan custard dari crepe itu karena memang manis dan kental. Adrian tidak terlalu suka cairan kental.

Aya melihat sedikit custard yang belepotan ke pipi Adrian. Aya mencolek custard yang menempel di pipi Adrian, kemudian menghisap custard yang ada di ujung telunjuk kanan-nya. Melihat ini, Adrian sedikit malu dan wajahnya menjadi sedikit merah.

“Aya… Kita bakal tinggal bareng ya…” ucap Adrian memulai percakapan.
“Iya… Sedikit aneh ya?” balas Aya.
“Yah… Tapi aku bersyukur sih.”
“Eh?”
“Dapet pacar secantik kamu… Cowok lain mungkin akan bunuh diri misal tahu aku pasanganmu.”

Mendengar ini, Aya menjadi memerah, Aya menunduk karena malu sekaligus bahagia mendengar ucapan Adrian barusan.

“Dasar bodoh.” Ucap Aya pelan.

———————————————————————————————————————————————————

Setelah menghabiskan semua pesanannya, Adrian dan Aya kembali ke parkiran motor disamping distrik pertokoan. Disana Adrian dan Aya melihat seorang wanita muda yang duduk di pojok area parkir. Wanita itu mengenakan sebuah kain putih panjang sebagai pakaiannya. Wajahnya menunduk kebawah.

Adrian dan Aya sedikit kaget, Adrian mendekati wanita itu.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Adrian.
“Tolong… Tinggalkan aku sendirian” balas wanita itu.

Adrian sedikit heran dengan wanita ini. Tapi karena tampaknya dia tidak membutuhkan bantuan, Adrian tidak begitu memikirkannya. Adrian dan Aya berjalan menuju motornya dan kembali pulang ke flat.

Setelah sampai di flat, Adrian menyuruh Aya untuk masuk ke kamar dulu, Adrian akan mampir ke kamar bu Sayaka untuk membayar uang sewa bulanannya.

Adrian menuju ke kamar bu Sayaka di ujung lantai 1, Adrian mengetuk pintu kamar dan bu Sayaka membalas dengan ucapan, “Ah, sebentar!”.

Tak lama kemudian bu Sayaka membukakan pintu kamarnya, dari dalam kamar tercium bau yang cukup harum. Bau kare? Ah bukan, ini cream stew.

“Masak bu?” tanya Adrian.
“Iya~ Kenapa Adrian? Mau menyatakan cinta ke saya?” balas bu Sayaka.

“Bu, tolonglah…”
“Masuk dulu gih, saya lagi masak.”

Adrian melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu yang ada disamping pintu masuk kamar bu Sayaka. Adrian kemudian masuk ke dalam kamar milik bu Sayaka.

Kamar ini berukuran cukup luas, lebih besar daripada kamar milik Adrian di lantai 2, tentu saja mengingat bu Sayaka adalah pemilik flat, pasti kamarnya yang paling besar. Kamar bu Sayaka terbagi menjadi 3 ruangan, satu ruangan utama dengan ruang TV dan dapur yang terpisah oleh 1 counter dapur, satu kamar tidur, dan satu kamar mandi.

Adrian duduk di meja makan yang terletak di depan counter dapur, bu Sayaka melanjutkan memasak cream stew yang hampir matang di balik counter dapur itu.

“Cream stew, bu?” tanya Adrian
“He-eh, kamu mau?” tanya bu Sayaka.
“Boleh?”
“Boleh! Aku malah ada rencana buat bagi ini ke penghuni flat misal hasilnya enak.”

Akhirnya Adrian menerima tawaran bu Sayaka untuk mencoba cream stew buatannya. Cream stew berisi daging sapi dan kentang yang direbus didalam kuah krim kental yang memiliki bau sangat harum akibat campuran kaldu sapi dan cooking cream.

Bu Sayaka memberikan seporsi cream stew yang ditaruh di dalam mangkuk kecil. Bu Sayaka juga menaruh sebuah sendok porselen kecil di dalam mangkuk itu. Bu Sayaka menaruh mangkuk di meja makan yang ada di depan Adrian.

“Silahkan dicoba~” ucap bu Sayaka sambil tersenyum.

Adrian menyendok satu sendok penuh cream stew buatan bu Sayaka dan memasukannya ke dalam mulutnya. Bumbu cream stew buatan bu Sayaka sangat cocok dengan selera Adrian, rasa creamy yang gurih dan kental seperti roux cair, daging dengan potongan dadu yang empuk, dan juga kentang yang lembut, semuanya sempurna.

“Enak banget bu! Saya suka!” ucap Adrian semangat, masakan bu Sayaka memang enak.
“Benarkah? Syukurlah… Nanti aku bagikan ke penghuni, kamu juga aku kasih kok.” ucap bu Sayaka.
“Andaikan aku bisa makan seperti ini tiap hari… Siapapun yang nanti jadi suaminya bu Sayaka, pria itu adalah orang yang beruntung.”

Mendengar ucapan Adrian, bu Sayaka langsung terkejut. Wajahnya memerah. Bu Sayaka kemudian mengalihkan perhatiannya dengan melihat ke arah lain.

“Te-terima kasih…”

Setelah itu, Adrian memberikan sejumlah uang untuk membayar sewa kamar per bulan. Bu Sayaka menerima kemudan menghitung jumlah uang yang diberikan Adrian. Jumlahnya pas, tak kurang maupun tak lebih.

“Oke, pas! Terima kasih ya Adrian~” ucap bu Sayaka

Adrian kemudian pamit untuk balik ke kamarnya, tapi melihat bu Sayaka yang akan mencuci beberapa piring dan peralatan dapur, Adrian menawarkan diri untuk membantu bu Sayaka.

“Eh, beneran nggak apa-apa?” Tanya bu Sayaka.
“Saya kerja di bar bu, nyuci gini udah biasa.” jawab Adrian.

Akhirnya Adrian membantu bu Sayaka menyuci peralatan dapur yang kotor, tapi sedikit masalah muncul, entah kenapa kran air cucian kamar bu Sayaka cuma mengeluarkan sedikit air. Adrian berusaha memutar lebih keras. Tiba-tiba air kran menjadi sangat keras dan menyemprot kemana-mana.

Adrian berusaha menutup saluran air kran itu, Adrian meraih kenop kran dan memutarnya hingga tertutup. Beberapa bagian dapur menjadi basah.

“Hya-n!” Bu Sayaka menjerit kecil, tampaknya cipratan air mengenai dirinya.
“Maaf bu Saya–ka…”

Adrian melihat bu Sayaka yang bajunya basah. Hem berwarna pink-nya terkena air, membuat efek transparan yang membuat Adrian bisa melihat bra yang dipakai oleh bu Sayaka dengan cukup jelas.

“Frill hitam..” pikir Adrian dalam hati.

Bu Sayaka segera membuka matanya kembali dan melihat bajunya menjadi tembus pandang. Tampaknya bu Sayaka tidak terlalu terkejut.

“Arara… Rasanya beneran aku harus panggil tukang buat benerin kenop kerannya… Udah 2 kali kejadian gini.” Ucap bu Sayaka sambil mengambil handuk dari dalam kamar mandi.

Adrian sendiri juga cukup basah terkena semprotan air keran tadi, bagian atas baju yang dikenakannya cukup basah, rambut hitamnya juga terlihat lepek terkena air keran.

Bu Sayaka kemudian keluar dari dalam kamar mandi membawa sebuah handuk kecil. Bu Sayaka menyuruh Adrian untuk duduk di sofa yang ada di ruang TV. Bu Sayaka duduk di samping Adrian, bu Sayaka kemudian mengusap rambut dan baju Adrian yang basah dengan handuk yang dibawanya dari kamar mandi.

Sentuhan tangan bu Sayaka dari balik handuk yang mengusap permukaan badan Adrian membuat Adrian merasa sangat malu, bu Sayaka mengusap bagian baju Adrian yang basah dengan lembut.

“Aaah, nggak bisa ini… Harus dicuci lalu dijemur dulu biar kering… Sini, lepas bajunya.” Bu Sayaka kemudian mencoba untuk melepas kaos yang dipakai oleh Adrian.

“BU! BU! Nggak usah! Sa-saya bisa nyuci sendiri!” Ucap Adrian panik, wajahnya semakin menjadi merah.
“Iya, tapi ini kan salah kran cucian-ku, jadi biar aku yang nyuci.”

Bu Sayaka dengan sigap mengangkat kaos yang dikenakan Adrian, Adrian sekarang telanjang dada, ia hanya mengenakan jeans biru tua favoritnya.

” Udah, kamu balik kamar sana.” ucap bu Sayaka.
“I-iya bu…”

Bu Sayaka kemudian mengantar Adrian hingga pintu depan kamar bu Sayaka. Bu Sayaka memberi tahu ia akan membagikan cream stew-nya saat jam makan malam. Adrian terdiam sejenak di depan kamar bu Sayaka, kemudian kembali ke kamarnya yang berada di lantai 2.

“Ayaaa~ Bukain pintu…” Ucap Adrian dari depan kamarnya.

Aya yang berada di dalam segera berdiri dan membukakan pintu.

“Selamat datang sayangku~ Mau makan dulu? Mandi dulu? Apa di-ri-ku? Fufu–”

Aya yang masih tersenyum menjadi diam dan membatu melihat Adrian yang datang tanpa pakai baju dan rambut yang sedikit acak-acakan.

BLAM! Pintu kamar Adrian ditutup oleh Aya.

“DASAR COWOK LADUR! KAMU HABIS *biiiip* dan *biiiip* sama induk semang kan?!” jerit Aya dari dalam kamar.
“KAMU SALAH PAHAM ,AYA!” balas Adrian sambil berusaha membuka pintu kamarnya yang dikunci oleh Aya.

“LADUR! MATI AJA SANA!”.

————————————————————————————————————————————————————–

Entah bagaimana, akhirnya Adrian berhasil masuk ke dalam kamarnya. Adrian duduk di samping kasurnya tempat Aya duduk sambil cemberut. “Imut juga…” pikir Adrian dalam hati. Aya masih belum mau berbicara sejak membukakan pintu kamar Adrian.

“Gini lho Aya, tadi pas aku bantu cuci piring di kamar bu Sayaka, keran airnya rusak, akhirnya airnya nyemprot kemana-mana.” Ucap Adrian.

Aya terlihat sedikit lega dengan penjelasan Adrian barusan. Aya kemudian turun dari kasur dan duduk di depan Adrian.

“Beneran?” ucap Aya pelan.

“Iya, masa sih aku bohong?” Adrian kemudian mengelus kepala Aya. Rambut coklatnya seperti biasa terasa sangat halus.

“Kamu itu satu-satunya buat aku…” Adrian kemudian memeluk badan Aya. Bau keringat Aya tercium oleh hidung Adrian, menimbulkan sensasi aneh yang membuat Adrian sedikit terangsang.

Adrian kemudian mencium bibir Aya, Aya membalas dengan bibirnya. Mereka saling mencumbu dengan cukup liar, memainkan lidah mereka di dalam ciuman yang cukup panas itu. Tangan Aya menyentuh dada Adrian yang cukup lapang, mendorong badan Adrian agar menghentikan ciumannya.

“Mandi dulu! Ayo, mandi dulu!” Ucap Aya sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Adrian.

Adrian kemudian masuk ke dalam kamar mandi, ia menyalakan shower dan mulai membasuh tubuhnya. Sementara itu Aya menyalakan TV yang ada di pojok kamar Adrian. Aya kemudian merubah TV ke mode HDMI, dan kemudian memutar web show dari smartphone-nya.

Jam di dinding menunjukkan pukul 17.00 sore, cahaya matahari yang mulai terbenam masuk melalui jendela kamar Adrian yang cukup besar, memberikan perasaan hangat  bagi siapapun yang sedang berada di dalam kamar. Aya sendiri sedikit merasa capek sehabis jalan-jalan dari distrik pertokoan siang tadi.

“Tok-tok” bunyi pintu kamar Adrian diketuk oleh seseorang. “Yo Adrian! Lemari-mu datang!”

Suara pak Haga terdengar dari luar kamar, Aya segera bangkit dari kasur dan membukakan pintu untuk pak Haga.

“Sore pak Haga~” Sapa Aya ke pak Haga.
“Ah nona Aya! Lemarinya sudah datang. Mau ditaruh dimana?” balas pak Haga.
“Di situ aja pak, di samping lemari yang satunya.”

Pak Haga kemudian mendorong lemari ke samping lemari lama milik Adrian. Lemari milik Aya terlihat sedikit lebih kecil dari lemari milik Adrian. Lemari milik Adrian berwarna hitam, sedangkan lemari milik Aya berwarna putih, terlihat sangat kontras, tetapi juga terlihat sangat serasi.

“Adrian mana?” tanya pak Haga ke Aya.
“Lagi mandi.” Jawab Aya singkat.
“Hooo… Yasudah, saya balik dulu ya.”

Pak Haga berjalan menuju arah pintu kamar Adrian, tapi sebelum pak Haga turun, pak Haga mengucapkan sesuatu pada Aya.

“Adrian itu anak baik, dia jujur, sopan, dan selalu memikirkan orang lain… Tolong jaga dia ya nona Aya, ia orang yang terlalu baik.”

Aya sedikit terkejut dengan ucapan pak Haga yang terdengar sangat serius ini, tetapi Aya tidak membantah itu. Ia telah mengalami sendiri kebaikan Adrian yang membantunya kembali ke kamar hotelnya beberapa hari yang lalu.

“Saya mengerti pak Haga. Saya sudah merasakan kebaikannya kok.” balas Aya.
“Baguslah… Berarti tinggal merasakan tubuhnya saja ya?” balas pak Haga.
“PAK!” wajah Aya memerah saat pak Haga memberikan balasan yang sedikit nakal itu.
“Hahahah, baiklah, saya balik dulu ya? Titip salam pada Adrian”.

Pak Haga kemudian turun ke lantai satu dan masuk kedalam truck pick-up nya. Sebuah Suzuki Ravi berwarna putih yang terlihat sangat bersih dan terawat. Pak Haga kemudian mengendarai truk nya kembali ke arah distrik pertokoan.

Aya kemudian kembali masuk kedalam kamar Adrian dan bersiap mengatur baju-bajunya kedalam lemari barunya. Beberapa saat kemudian Adrian keluar dari kamar mandi, badannya terlihat segar dan bersih, ia hanya mengenakan handuk yang diikatkan di bagian pinggangnya.

“Kamu nggak pake baju? Tanya Aya ke Adrian yang baru saja selesai mandi.
“Ah, aku kebiasaan kalo selesai mandi harus kena angin-angin dulu baru pake baju… Kenapa?” balas Adrian sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.

“Ah, nggak-nggak apa-apa…”

Aya mencoba memperhatikan bentuk badan milik Adrian. Badan yang besar dan sedikit gemuk, tetapi juga padat dan berotot. Bisa dibilang Adrian memiliki bentuk badan yang cukup atletis. Adrian beruntung karena memiliki tinggi badan yang cukup, karena kalau dia pendek, maka dia akan terlihat gemuk.

Adrian yang dari tadi mengeringkan rambutnya menyadari Aya memperhatikan tubuhnya.

“Yah.. Maaf aku bukan tipe cowok yang punya badan kekar~” Ucap Adrian pelan.
“Ah! Nggak…”

Aya kemudian berjalan menuju Adrian. Aya mencubit perut Adrian dari belakang.

“Justru aku suka yang tipe-tipe gini, bisa diremes-remes. Hahahah.” Ucap Aya sambil tetap meremas perut Adrian.
“A-Aya ah! Udah, mandi dulu sana!” balas Adrian yang terkejut karena perutnya diremas oleh Aya.

“Hufufufufu~ Ya udah aku mandi. Jangan ngintip ya?!” balas Aya sambil berjalan ke kamar mandi.
“Peh, siapa juga yang mau ngintip kamu.” balas Adrian.

“Oh?”

Aya menghentikan langkahnya ke kamar mandi, ia berdiri di depan pintu kamar mandi, kemudian mulai menanggalkan baju yang dipakainya satu demi satu. Awalnya Adrian tidak menyadarinya, tapi tak lama kemudian Adrian menyadari Aya melepas bajuny di luar kamar mandi.

“Aya! Ngapain kamu!” ucap Adrian dengan wajahnya yang merah.
“Fufu~ Katanya ngak mau ngintip?” jawab Aya yang masih memakai set baju dalamnya.
“Ya iya! Tapi kalau kamu buka baju gini juga siapa aja pasti ngelihat!” balas Adrian kalap.

Aya tertawa kecil. Aya kemudian mendekati Adrian yang duduk di lantai menunggu badannya kering. Aya memeluk Adrian dari belakang, kemudian berbisik..

“Kalau ke kamu, aku mau nunjukkin semuanya”.

Pelukan Aya terasa lembut, dada nya menyentuh punggung Adrian yang tidak tertutup sehelai kain apapun. Adrian makin merasa malu sekaligus senang.

Aya kemudian kembali berdiri dan masuk ke kamar mandi, Adrian kemudian bangun dan mengambil baju ganti dari lemari yang ada di pojok kamarnya. Di samping lemari miliknya terletak rapi lemari putih kecil milik Aya. Sesaat Adrian tersenyum kecil, menyadari bahwa dirinya tidak sendirian lagi.

Adrian duduk di kasurnya dan mulai memakai baju. Dipakainya celana dalam Hush Puppies berwarna hitam miliknya, kemudian celana pendek, dan diakhiri dengan t-shirt dengan printing wajah Kousaka Kirino dari OreImo.

Aya masih berendam di dalam kamar mandi. Aya kemundian keluar dari bath-tub untuk memakai shampoo dan sabun.

Aya memakai shampoo yang memiliki aroma lembut dan manis yang serasi dengan kepribadiannya. Rambut Aya yang basah karena terkena air terlihat cukup tebal. Aya mulai mengusapkan shampoo ke kepalanya, yang kemudian ia lanjutkan hingga seluruh bagian rambutnya terkena shampoo.

Ia mengambil shower gel yang memiliki label “BubbleGum scent”. Sabun yang memiliki bau permen karet sangat manis yang membuat siapapun yang mencium aromanya terasa seperti terkena sihir. Bau seperti ini juga disukai oleh Adrian.

Aya menuangkan sabun itu ke tangan kirinya, kemudian mulai menggosokkan tangan kanannya untuk membuat sabun itu mengeluarkan busa. Aya kemudian mulai mengusapkannya ke kaki kanannya, mulai dari paha kemudian turun ke telapak kakinya.

Aya melanjutkan mengusap kaki kirinya, mulai dari paha sampai ke telapak kaki, kemudian ia lanjutkan ke tangan kanan, kemudian tangan kiri. Aya selalu meninggalkan bagian perut, dada dan punggung untuk diusap terakhir setelah kaki dan tangannya selesai.

Aya mulai mengusapkan sabun ke dadanya, dengan lembut Aya mengusap dadanya yang ia lanjutkan dengan mengusap bagian perutnya. Untuk bagian punggung Aya mengalami sedikit kesulitan, tapi ia sudah terbiasa.

Aya membilas rambut dan tubuhnya dengan shower yang terletak di samping bath-tub. Air hangat yang keluar dari shower mulai membilas shampoo dan sabun yang menutupi tubuh Aya. Aya kemudian kembali merendam baannya yang suah bersih kedalam bath-tub yang berisi air hangat.

“Fuwaaaaaa~~~” Ucap Aya setelah kembali merendam badannya di dalam bath-tub.

Badan Aya serasa mencair setelah masuk kedalam air hangat, memang tidak ada perasaan yang lebih menenangkan dari berendam di dalam air hangat setelah seharian beraktivitas.

Sementara Aya masih menikmati waktunya di dalam kamar mandi, Adrian berpikir untuk memasak sesuatu sebagai makan malam mereka berdua. Adrian melihat ada daging sapi dan beberapa sayuran di dalam kulkas. “Nabe?” pikirnya, tapi kemudian, dari depan pintu terdengar suara bu Sayaka.

“Adrian! Ini Cream-Stew yang tadi siang!”

Suara lembut bu Sayaka terdengar dari balik pintu kamar Adrian, sesuai yang bu Sayaka janjikan tadi siang, ia membagikan cream stew buatannya untuk penghuni flat miliknya.

Adrian membuka pintu kamarnya, di luar terlihat bu Sayaka yang terlihat ceria. Rambut hitam panjang bu Sayaka yang dibiarkan terurai terlihat tebal dan lembut. Bu Sayaka memakai T-Shirt putih dibalik apron berwarna coklat muda yang sering ia kenakan.

“Lho? Aya mana?” tanya bu Sayaka yang membawa sebuah panci kecil berisikan cream stew buatannya.
“Ah, lagi mandi… Mau masuk dulu bu?” tanya Adrian.
“Ah nggak usah, nanti aku ganggu kalian berdua.” Jawab bu Sayaka

Bu Sayaka kemudian pamit kepada Adrian, dan kemudian turun untuk kembali ke kamarnya.

Adrian menaruh panci yang diberikan oleh bu Sayaka di atas counter kitchenette disamping pintu masuk kamarnya. Tercium bau yang sangat lezat dari dalam panci yang diberikan bu Sayaka. Tak salah lagi, ini adalah cream stew yang disantapnya tadi siang.

Adrian mulai memporsikan cream stew dari dalam panci ke dua mangkuk berukuran sedang yang dikeluarkannya dari lemari yang terletak di atas kitchennete, sepasang mangkuk porselen yang dikirimkan oleh ibunya dari negara asalnya. Sebuah mangkuk yang memiliki motif khas Belanda yang dilukis dengan tinta biru.

“Adrian, ini buat makan! Mama cuma coba-coba aja kirim barang dari sini ke Tokio, kalo nyampe bales chat ya~” begitulah isi notes kecil di dalam box cokelat tempat mangkuk itu dikirim saat itu.

Adrian membagi cream stew dengan laddle kedalam mangkuk itu. Cream stew-nya masih sangat hangat dan fresh, sehingga Adrian tidak perlu memanaskannya terlebih dahulu.

Sementara itu, Aya sudah selesai mandi, ia memakai bra dan panties set Haruna dari KanColle yang ia beli online dari sebuah web Jepang yang sudah sering ia kunjungi.

“I-ini yang tadi siang dilihat sama dia kan…?” Pikirnya dalam hati.

Untuk sesaat Aya berfantasi, ia membayangkan apabila Adrian menanggalkan lingerie yang akan ia kenakan ini.

“HYAAA!! AKU MIKIR APA!!” Jerit Aya di dalam hatinya. Wajahnya menjadi memerah setelah memikirkan hal mesum barusan.

Aya kemudian bergegas memakai lingerie yang ia genggam dari tadi. Kemudian memakai sebuah T-shirt ramping berwarna pink, dan sebuah celana super pendek yang tertutup dibalik T-shirt nya.

Aya kemudian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih sedikir basah, sesaat setelah meninggalkan kamar mandi, Aya langsung mencium bau harum cream stew hangat yang berada di atas meja kopi di samping kasur kamar Adrian.

Terlihat Adrian yang duduk di lantai bersandar ke kasur sambil melihat acara TV yang ia nyalakan. Ia menyadari Aya telah keluar dari kamar mandi.

“Aya! Ba-bajumu..” Ucap Adrian yang melihat setelan baju yang dipakai oleh Aya.
“Kenapa? Imut kan?” Balas Aya sambil menunjukkan t-shirt pink yang dipakainya.
“C-Cuma pake kaos?” tanya Adrian.
“Pake celana juga kok.”

Aya kemudian mengangkat T-shirt nya sedikit untuk menunjukkan sebuah celana pendek kecil berwarna putih yang tertutup kaus pink-nya.

“Heh! Nggak usah ditunjukkin gitu juga kali!” Ucap Adrian kalap.
“Heee~” Aya tersenyum nakal melihat reaksi Adrian.

Aya duduk di samping Adrian. Adrian bisa mencium bau wangi yang melapisi tubuh Aya, bau manis bagaikan permen karet yang sangat ia sukai.

“Makaaan~” ucap Aya yang memeluk lengan sebelah kiri Adrian.
“Ah iya. Sebentar.”

Adrian berdiri dan berjalan menuju area kitchenette di kamarnya.

Ia mengangkat sebuah mangkuk cukup besar. Mangkuk itu berisi Cream Stew buatan bu Sayaka.

Adrian menaruh mangkuk itu tepat ditengah Coffe Table di tengah TV, ia kemudian kembali ke kitchenette untuk mengambil piring dan peralatan makan yang lain.

Rice Cooker yang ditaruh disamping TV telah matang memasak nasi, Adrian kemudian menarik rice cooker itu agar dekat dengan meja tempat mereka makan.

“Ah, biar aku aja…” Ucap Aya yang kemudian membantu menuangkan cream stew ke mangkuk kecil milik Adrian.
“Ah, makasih.”
“Sama-sama, fufu~”

Adrian menikmati Cream Stew itu, ia memakannya dan rasanya persis seperti apa yang ia santap siang hari tadi.
Di sisi lain, Aya baru menikmati Cream Stew bu Sayaka untuk pertama kalinya.

“Ini enaaaaak!!!” ucap Aya setelah mencoba Cream Stew bu Sayaka untuk pertama kalinya.
“Haha, iya, memang enak banget.” balas Adrian

Aya kemudian melahap Cream Stew itu seperti orang yang baru saja menemukan harta karun. Aya bahkan sampai meminta tambahan nasi ke Adrian.

“Lagi!” ucapnya.

————————————————————————————————————————————————————-

Hari sudah malam. Adrian dan Aya menikmati acara TV sambil berpelukan di kasur yang terledak di pojok kamar Adrian. Kasur Adrian bukanlah kasur yang besar, adalah kasur tipe Single yang (untungnya) cukup untuk diisi oleh Adrian dan Aya berdua.

Kasur yang memiliki cover berwarna biru muda, 2 bantal berwarna putih yang cukup tebal, dan…

….

Dan satu dakimakura dengan cover Sena Kashiwazaki dari anime “Boku ha Tomodachi ga Sukunai” yang diletakkan di samping Adrian dan Aya.

Saat Aya meminta Adrian untuk menaruh dakimakura-nya di lemari, Adrian berkata,

“Ndak. Ndak mau.”

Dan akhirnya mereka bertiga bersantai di atas kasur.

“Kamu… Sudah punya aku, dan kamu masih menaruh dakima di atas kasur?” tanya Aya.
“Yep.”
“Kamu sudah ada aku lho.”
“Aku tahu.”
“……..”

Adrian kemudian bangkit dari kasur, mengambil dakimakura Sena, dan menaruhnya di lemari miliknya yang terletak di samping TV. Ia kemudian kembali ke kasur dan memeluk Aya.

“Aku nggak separah itu kok.” ucap Adrian sambil mencium dahi Aya.
“…. Dasar jahil…”balas Aya.

Aya semakin erat memeluk Adrian. Adrian sendiri mencium rambut Aya, rambut yang sangat lembut dan terasa empuk. Bau shampoo Aya juga semakin membuat Adrian merasa nyaman mencium rambut Aya yang halus itu.

“Mau nonton film?” Tanya Adrian.
“Mm.. Mau deh. Ada film apa?” Balas Aya.

Adrian berdiri untuk membuka kabinet kecil tempatnya mmenyimpan DVD dan BluRay Disc miliknya. Di dalamnya terlihat banyak sekali kotak DVD film dan BluRay game PlayStation miliknya. Tampaknya Adrian juga seorang gamer, walaupun ia memulai koleksi dari konsol generasi ketujuh, PS3.

“Oho, kamu ada game juga?” Tanya Aya.
“Eh? Yaah, aku main juga, walaupun nggak sesering dulu sih..”

Aya melihat beberapa koleksi game milik Adrian. Koleksi yang tertata rapi dari A hingga Z.
Dari semua koleksi itu, Aya melihat beberapa kotak game yang terpisah dari deretan game lainnya, terlihat sebuah kotak besar dengan label “Diamond Dogs Archives”.

“Apa itu?” Tanya Aya sambil menunjuk ke arah kotak hitam itu.
“……. Itu… Belum, belum saatnya kamu tahu, Aya…” Jawab Adrian sambil terus mencari film yang cocok untuk disaksikan bersama Aya.

“Eeeeeh?”

Akhirnya Adrian menarik keluar beberapa DVD film.

“Ah, aku mau lihat ini!” Ucap Aya setelah melihat beberapa DVD film yang dikeluarkan oleh Adrian.

“電車男” – “Train Man”, judul DVD yang dipilih oleh Aya.

“Ah, Densha Otoko! Salah satu film favoritku semasa SMA!” Kata Adrian penuh semangat.

Densha Otoko, salah satu legenda di kalangan para Otaku. Seorang Otaku akut yang curhat tentang pengalamannya bertemu dengan seorang wanita saat pulang dari Akihabara di salah satu BBS ternama di Jepang yang akhirnya berdampak ke keseluruhan hidupnya.

“Ah, itu yang Otaku akut tapi akhirnya jadi proper man kan?” Celetuk Aya.
“Ah, kamu tahu?” Tanya Adrian
“Aku cuma pernah baca bukunya sih, temanku yang kasih tahu.” Balas Aya.
“Ah, nggak apa-apa, nonton yuk?”
“Ok!”

Adrian memasukkan DVD Densha Otoko kedalam PS4 miliknya. Ia mengontrol PS4-nya dengan PlayStation Move, sehingga terlihat seperti sebuah DVD Player dengan remote control. Ia kemudian mematikan lampu kamarnya agar lebih nyaman menonton film.

Adrian kembali berbaring di atas ranjangnya, diikuti dengan Aya yang berbaring disampingnya.

Adrian memeluk Aya dari belakang sehingga membentuk posisi yang sering disebut dengan “Spooning”, ia menekan tombol O dari Move-nya, dan dengan itu dimulailah versi film Densha Otoko.

Setelah beberapa lama, Adrian mulai berbicara pada Aya.

“Kamu tahu.. Saat aku SMA dulu, aku bukan anak yang pandai bergaul… Ya, aku bisa berbaur di masyarakat, hanya saja aku nggak akan pernah bisa merasa nyaman…”

Aya yang sedikit terkejut dengan komentar Adrian membalikkan badannya menghadap ke Adrian.

“Eh? Kenapa?” tanya Aya.
“Nggak tahu juga… Mungkin pada waktu itu aku terlalu tertutup..”

Adrian kemudian kembali melihat ke arah TV, Aya masih memperhatikan wajah Adrian. Aya bisa memahami bahwa Adrian sedikit merasa kesepian. Pandangan dan senyuman Adrian terlihat berbeda dengan saat sebelum ia bercerita tentang masa-masa sekolahnya.

Aya menarik kepala Adrian kearah dadanya. Aya memeluk Adrian dengan sangat lembut, mengusap kepala Adrian dengan tangan kanannya, mengecup lembut dahinya, dan berkata..

“Sekarang kamu tidak sendirian, dan kedepannya aku juga akan terus bersamamu.. Walaupun bila kamu akan membenciku, aku akan tetap bersamamu.”

Adrian melihat ke arah wajah Aya.
Wajahnya yang cantik, yang terpapa dengan cahaya televisi yang menyala, memberikan suatu aura sensual yang entah kenapa membuat Adrian seperti terhipnotis oleh kecantikan Aya.

Aya kembali mengelus kepala Adrian, mengelus pipi kanannya dengan tangan yang halus dan lembut itu.

Adrian mencium telapak tangan Aya, ia menciumnya dengan sangat lembut, menikmati setiap momen yang terlewati, menikmati kehadiran seorang wanita yang baik, yang menemaninya, dan memperkenalkannya ke dunia baru, dunia sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Adrian mematikan DVD, ia memeluk Aya sangat erat, dan mulai mencium bibirnya.

Bibir Aya yang sangat lembut dan beraroma cherry, Adrian memposisikan Aya agar berada di bawahnya. Sambil terus mengulum bibirnya.

Aya sendiri membalas ciuman Adrian, Aya menaruh kedua lengannya di leher Adrian, Aya bisa merasakan emosi Adrian yang terlampiaskan pada ciumannya kepadanya.

Mereka berdua berhenti.
Mereka saling memandang.

Aya bisa melihat Adrian yang memandangnya dengan tatapan penuh kasih sayang, tatapan yang ia harapkan dari Adrian sejak awal mereka berdua berpacaran.

Adrian melihat Aya yang berbaring di kasur, seorang wanita muda yang baru saja ia kenal beberapa hari yang lalu, tapi entah kenapa ia sangat mempercayai wanita ini. Wanita yang sangat mencintai dirinya, wanita yang ia dambakan sejak lama. Wanita yang menerima dirinya apa adanya.

Aya mengambil start, ia menarik leher Adrian dan menyambutnya dengan ciuman yang lebih dalam, yang biasa disebut dengan ‘Deep Kiss’ atau ‘French Kiss’. Aya kembali mengusap kepala Adrian, Adrian sendiri menikmati lidah Aya yang bermain di dalam mulutnya. Suara-suara kecupan keluar dari setiap ciuman, menjadikan suasana malam itu semakin erotis.

Hingga akhirnya mereka berdua mencapai titik dimana mereka paham harus melewati garis itu.
Garis yang membedakan antara mereka akan berkomitmen atau tidak, garis dimana mereka akhirnya benar-benar akan menjadi satu.

Adrian menghentikan kecupannya.

“Kenapa?” tanya Aya
“Aku nggak ada kondom.” jawab Adrian yang wajahnya memerah.

Aya terbangun dari posisinya, kembali mencium Adrian, dan berkata,

“Hari ini aku aman… Lagipula, aku ingin kau benar-benar merasakan tubuhku untuk pertama kalinya.”

Adrian dan Aya terdiam sejenak.
Adrian mengusap pipi kanan Aya, menaruh rambut Aya ke belakang kuping kanan Aya. Adrian mengecup lembut leher bagian kanan Aya. Aya mendesah ringan, kemudian tersenyum.

“Ini pertama kalinya untukmu?” tanya Aya.
“Y-yeah..” jawab Adrian singkat.

Aya menggenggam telapak tangan kanan Adrian dan menaruhnya di dalam celana dalamnya.

“Sini… Setidaknya kau tahu bagaimana cara memainkannya kan?” ucap Aya dengan suara yang sangat menggoda Adrian.

Wajah Adrian menjadi sangat merah, ini pertama kali baginya, untuk menyentuh wanita di tempat-tempat pribadi seperti ini.

Adrian mulai memasukkan jari telunjuknya ke dalam vagina Aya yang sudah cukup basah.
Aya mendesah sedikit, ia tersenyum bahagia dan kembali mencium Adrian.

“Ngghh~ ♥”

Aya mengangkat kaos yang dikenakan oleh Adrian, membuat Adrian bertelanjang dada. Aya menghisap putting sebelah kanan Adrian.

“Ah!” Adrian terkejut dengan apa yang dilakukan Aya.
“Tenanglah, ini akan terasa nyaman…”

Aya menarik celana pendek Adrian kebawah, membuat penis Adrian yang berdiri tegak semakin keras dan menyundul keluar.

Aya menggenggam penis Adrian dan mulai menjilatinya, dari pangkal hingga ujung.

“Ha-ah!” Adrian mendesah, permainan lidah Aya yang mengulum alat kelaminnya membuat sensasi aneh di seluruh tubuhnya.

“A-Aya.. Kau..”
“Mmnn.. Kenyapa?”
“Ng-nggak.. Ah!”

Adrian mengalami ejakulasi pertamanya, ia mengeluarkannya di dalam mulut Aya.

Aya melepaskan mulutnya dari penis Adrian. Ia terlihat sedikit tersedak, tetapi kemudian menelan cairan sperma Adrian yang memenuhi mulutnya.

Adrian menarik lengan kanan Aya, Adrian bisa merasakan betapa halusnya kulit Aya, Adrian kemudian mencium kembali bibir Aya, ia melakukan deep kiss yang lebih liar.

“Mnn, n-haa, Ah~n mhmnn”

Suara-suara nakal keluar dari mulut mereka berdua. Adrian menaruh tangannya di permukaan pinggang Aya, Adrian mengusap halus bagian belakang pinggang Aya. Tangannya terus menurun hingga mencapai bokong Aya.

Aya mendorong Adrian hingga tertidur di atas ranjang, Aya memegang penis Adrian yang sudah dalam keadaan keras dan berdiri tegak dan memasukkanya kedalam bibir vagina miliknya yang telah basah.

Aya mulai bergerak naik turun di atas tubuh Adrian yang berbaring di ranjang, Aya mendesah nakal sedangkan Adrian terlihat sangat menikmati permainan Aya.

Adrian menegakkan tubuhnya, ia mencium putting payudara sebelah kanan Aya, ia memainkan putting itu dengan lembut, membuat Aya sedikit merasa geli, sekaligus merasakan nikmat yang memuaskan.

Aya yang bergerak naik turun, dengan matanya yang terpejam, suara desahannya yang nakal, rambut coklatnya yang terlihat sedikit kacau dan berantakan membuat Adrian semakin terangsang, Aya bisa merasakan penis milik Adrian yang semakin keras di dalam dinding vagina miliknya. Tidak jarang penis Adrian mencium rahimnya.

“A-Aya, aku bakal keluar ini…” ucap Adrian
“Nggak apa-apa.. Keluarin di dalem aja.”

Adrian akhirnya mendapatkan ejakulasi keduanya, tepat di dalam vagina Aya.

“Nggaah~!!” Aya mendesah keras bertepatan dengan Adrian yang mengeluarkan muatannya.

Aya tergolek lemas di atas tubuh Adrian, memeluknya dengan lembut dan mencium pipinya.
Adrian mencium kening Aya dengan penuh cinta, ia sungguh benar-benar mencintai Aya.

Adrian sekali lagi mencium bibir Aya, kali ini ia memberikan sebuah kecupan lembut yang dalam dan halus.
Aya memeluk leher Adrian, ia merasa beruntung bisa hidup bersama seorang lelaki yang benar-benar mencintainya.

“Tidur yuk?” tanya Adrian.
“Ah, bentar..”

Aya mencium bibir Adrian.
Adrian menyambut ciuman Aya, ia kemudian memeluk pinggang Aya.

Akhirnya mereka berdua tertidur dengan sendirinya, hanya berbalut selimut yang sudah terbuka akibat aktivitas mereka berdua di atas ranjang.

—————————————————————————————————————————————————————

Sudah 3 bulan sejak Adrian dan Aya resmi menjadi sepasang kekasih. Keseharian mereka dipenuhi dengan cinta, bahkan mungkin bila mereka rajin menuliskannya ke dalam suatu diari bersama, mereka bisa menjual diari itu sebagai sebuah novel romantis.

Bisa dibilang Adrian dan Aya adalah pasangan yang sempurna, mereka jarang, bahkan hampir tidak pernah bertengkar. Mereka memahami aktivitas satu sama lain, dan saling menghormati kebutuhan mereka masing-masing.

Mereka juga melakukan sex dengan rutin, tanpa ada yang memaksa maupun dipaksa. Walaupun terkadang Adrian sudah terlalu capek untuk memberikan performa maksimal.

Pada hari Minggu kali ini, Adrian dan Aya memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman di tengah kota.

Taman di kota Tokio terlihat asri dan tenteram. Banyak pohon yang tumbuh dengan cantik tertanam di sekitar jalan setapak di taman itu. Di tengah taman terdapat sebuah danau buatan yang digunakan orang-orang yang berkunjung ke taman sebagai area perahu.

Adrian dan Aya sendiri tidak menaiki perahu di danau. Mereka kali ini hanya duduk di kursi taman yang terbuat dari kayu. Aya membawa salah satu buku favoritnya, “Norwegian Woods” karangan Haruki Murakami.

Adrian sendiri tertidur berbantalkan paha Aya, ia hanya menikmati waktu tenangnya di taman bersama Aya. Aya sendiri mengelus kepala Adrian sambil terus membaca Norwegian Woods.

Hari itu cuaca cukup cerah, dengan matahari yang tertutupi awan tipis. Angin yang berhembus halus membuat suara rindang daun-daun pepohonan yang menghasilkan sensasi ketenangan tersendiri untuk Adrian dan Aya.

Tetapi ketenangan ini harus terhenti untuk sesaat.

Seorang pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam datang mendekati tempat Aya dan Adrian beristirahat.

Pria itu berkata.

“Aya… Itu kau?”

Aya yang dari tadi membaca buku miliknya melihat ke arah pria itu.

Entah kenapa, Aya sangat terkejut, sampai pegangan ke bukunya lepas begitu saja.

“Ke-kenapa kau bisa ada di sini… ?”

Aya terlihat kacau, matanya terlihat melotot ke arah pria itu.

Adrian terbangun, ia kemudian bertanya ke pria itu.

“Maaf, anda siapa?”

Pria itu melihat ke arah Adrian, pria itu membalas,

“Kau siapa? Jangan-jangan.. Pacar Aya?” tanya pria itu
“Ya, benar.” balas Adrian penuh percaya diri.

Pria itu terdiam sejenak.
Ia kemudian meraih saku jas sebelah kanannya untuk mengeluarkan sebuah kartu nama.

“Nakahara Fuji, Manager.”
“Manager? Manager apa?” tanya Adrian.

Pria bernama Fuji itu terdiam, ia bertanya pada Aya,

“Kau belum menceritakan padanya?” tanya Fuji pada Aya.
“Jangan… Tolong…”

Aya terlihat kacau, matanya terlihat berkaca-kaca sambil tetap melotot ke arah Fuji.

“Aya.. Kenapa kamu?” tanya Adrian sambil menggenggam pundak Aya.
“Pulang.…Ayo kita pulang Ian!” Aya menangis, ia terlihat panik dan ketakutan.
“Oke, oke.. Ayo pulang.” Adrian memeluk Aya, ia kemudian menggandeng Aya untuk keluar dari taman itu.

Fuji kemudian berkata.

“Aya, kau tidak bisa terus menyembunyikan fakta itu.”
Adrian yang penasaran membalikkan badannya ke arah Fuji, ia bertanya,

“Apa maksudmu?!” tanya Adrian dengan emosi.

Melihat Aya yang panik dan kacau, sudah sewajarnya Adrian merasa emosi pada Fuji, ia merupakan penyebab semua hal ini.

“Maafkan aku, tetapi wanita yang sedang kau peluk itu…”
Fuji kembali terdiam, ia mengerutkan alisnya, dan menggigit giginya untuk bersiap berkata pada Adrian, bahwa…

“Aya itu… Dia seorang AV idol… Ia seorang bintang video porno.”

Chapter 2 of 3
End.

 

Join the AV+UNIT!

Twitter: @AndrianVidano
Facebok: Andrian Vidano+
Instagram: @andrianvidano

Iklan

2 pemikiran pada “[Chapter 2 of 3] Even If… (R18)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s